Dua Tiga : Lima Sembilan
Jam menunjukkan hampir tengah malam. Di luar, kota sudah lebih dulu berisik. Kembang api muncul sebelum waktunya, klakson bersahutan, dan orang-orang tertawa seolah-olah besok tidak perlu bangun pagi. Aku ikut tersenyum. Bukan karena semuanya sempurna. Justru karena tahun ini jauh dari kata mudah. 2025 datang tanpa basa-basi. Ia mengajakku berlari, tersandung, lalu berdiri lagi. Ia mengajariku banyak hal tanpa buku panduan. Tentang bertahan di hari yang panjang, tentang menyelesaikan hal-hal yang dulu terasa terlalu berat, tentang tetap melangkah meski kadang sambil menyeret kaki. Aku tidak selalu menang dengan cara yang indah. Ada hari-hari ketika aku pulang dengan kepala penuh dan tenaga habis. Ada keputusan yang membuatku ragu, ada proses yang memaksaku belajar lebih cepat dari yang kuinginkan. Tapi aku bertahan. Dan mungkin lebih dari itu, aku bertumbuh. Aku melihat ke belakang, dan hampir tidak mengenali diriku yang di awal tahun. Yang lebih mudah panik. Yang terlalu keras pada di...