Posts

Showing posts from December, 2025

Dua Tiga : Lima Sembilan

Image
Jam menunjukkan hampir tengah malam. Di luar, kota sudah lebih dulu berisik. Kembang api muncul sebelum waktunya, klakson bersahutan, dan orang-orang tertawa seolah-olah besok tidak perlu bangun pagi. Aku ikut tersenyum. Bukan karena semuanya sempurna. Justru karena tahun ini jauh dari kata mudah. 2025 datang tanpa basa-basi. Ia mengajakku berlari, tersandung, lalu berdiri lagi. Ia mengajariku banyak hal tanpa buku panduan. Tentang bertahan di hari yang panjang, tentang menyelesaikan hal-hal yang dulu terasa terlalu berat, tentang tetap melangkah meski kadang sambil menyeret kaki. Aku tidak selalu menang dengan cara yang indah. Ada hari-hari ketika aku pulang dengan kepala penuh dan tenaga habis. Ada keputusan yang membuatku ragu, ada proses yang memaksaku belajar lebih cepat dari yang kuinginkan. Tapi aku bertahan. Dan mungkin lebih dari itu, aku bertumbuh. Aku melihat ke belakang, dan hampir tidak mengenali diriku yang di awal tahun. Yang lebih mudah panik. Yang terlalu keras pada di...

Percakapan Warna di Meja Paling Ujung

Image
Di kota yang terlalu rapi untuk disebut hidup, sebuah kafe berdiri dengan jendela besar yang menghadap jalan basah. Tidak suram, tidak cerah. Hanya cukup ada. Tuan Abu Mawar datang lebih dulu. Ia memesan americano dingin, tanpa gula, tanpa tambahan apa pun. Ia duduk di meja paling ujung, dekat jendela, dengan sebuah buku tipis di tangan. Bukan novel. Kumpulan esai yang sudah diberi banyak lipatan di sudut halamannya. Tak lama kemudian, Nona Biru Senja masuk. Mantelnya basah sedikit. Rambutnya disampirkan begitu saja, seperti orang yang tidak terlalu peduli apakah dunia menilainya rapi atau tidak. Ia memesan kopi hitam, panas, tanpa basa-basi. Lalu duduk di meja yang sama, tanpa bertanya. Tuan Abu Mawar mengangkat wajahnya sebentar, lalu kembali menunduk. Ia sudah terbiasa dengan dunia yang suka duduk tanpa permisi. “Menurutmu,” kata Nona Biru Senja tiba-tiba, sambil menatap pantulan dirinya di kaca jendela, “warna itu milik siapa?” Tuan Abu Mawar menghela napas pelan. Ia tidak menjawab...

Medusa, Privilage yang Disewa

Image
​Tak semua kutukan datang dalam rupa yang buruk. Sebagian justru datang dalam wajah yang dipuja habis-habisan. ​Medusa dulu cantik.. terlalu cantik, kata orang-orang. Cantik sampai orang-orang merasa berhak menatapnya tanpa izin. Cantik sampai kekaguman berubah menjadi klaim kepemilikan. Cantik sampai tubuhnya sendiri tak lagi dianggap miliknya. ​Dunia menyukainya saat ia elok. Doa-doa menyebut namanya, dan tatapan mata memuja mengikuti setiap langkahnya. Semua pintu seolah terbuka lebar, sebab keelokan memang selalu menjadi kunci cadangan yang paling ampuh. ​Lalu, satu hari, segalanya berubah. Medusa tidak lagi cantik. Rambutnya menjadi ular, wajahnya menjadi alasan ketakutan, dan tatapan matanya dianggap sebagai ancaman mematikan. ​Aneh, ya? Saat ia elok, tatapannya dianggap mengundang. Saat ia tak lagi rupawan, tatapannya dianggap sebagai serangan. Ia diasingkan hanya karena dunia tak sanggup menerima bahwa sesuatu yang pernah dipuja kini tak lagi nyaman dipandang. Orang-orang lebih...

Dari Kebaikan, Tumbuh Kebaikan

Image
Aku datang dengan kebiasaan yang sama seperti biasanya. Makan malam di Restoran hotpot langgananku di sebuah mal. Biasanya aku selalu mencari meja di bagian dalam. Sudut yang tenang. Tempat duduk yang tidak terlalu terlihat, jauh dari lalu lalang orang, seperti ruang kecil untuk bernapas di tengah keramaian kota. Tapi malam itu, kursi-kursi favoritku sudah penuh. Aku diarahkan ke bagian luar. Masih satu area dengan restoran, hanya saja kursiku berbatasan langsung dengan restoran sebelah. Tanpa tembok. Tanpa jarak. Tepat di samping restoran korean noodle yang baru buka hari itu juga. Ramainya bukan main. Aku sempat menghela napas kecil. Bukan keluhan, hanya penyesuaian. Aku duduk, sambil menunggu makananku datang, sambil sesekali melirik ke sekeliling. Orang berlalu-lalang, suara tawa, panggilan server, piring yang saling bersentuhan. Kota sedang sibuk menjalankan perannya. Lalu, dari sampingku, terdengar percakapan. Bukan suara pelanggan yang sedang bercengkrama. Bukan pula suara dapur...

Sisa 6 Hari Lagi

Image
Resolusi itu dulu kutulis dengan perasaan ringan. Awal tahun, saat pagi terasa lebih panjang dan harapan belum banyak diganggu kenyataan. Aku menulisnya pelan-pelan, seperti sedang mengobrol dengan versi diriku di masa depan. “Semoga ya,” kataku waktu itu. Dan entah kenapa, aku tersenyum. Sekarang tanggal 25 Desember. Enam hari lagi sebelum tahun ini benar-benar pamit. Dan sekarang aku membaca ulang daftar itu sambil tersenyum yang berbeda. Bukan senyum penuh ambisi, tapi senyum seseorang yang sudah cukup jauh berjalan. Beberapa resolusi tercentang. Beberapa masih setengah jalan. Dan ada juga yang berubah bentuk, karena hidup rupanya suka memberi versi alternatif yang tidak tercantum di rencana. Lucunya, aku tidak merasa gagal. Yang kurasakan justru rasa akrab. Akrab dengan lelah, akrab dengan jeda, akrab dengan diriku sendiri yang ternyata lebih kuat dari yang kupikir. Sepanjang tahun ini, aku belajar bahwa bertumbuh tidak selalu terlihat dramatis. Kadang ia hadir dalam bentuk m...

Es yang Mencair Cepat

Image
Kopi itu dibuat di sela pagi yang terburu-buru. Kopi yang selalu sama setiap harinya. Americano dengan es, tanpa gula. Ia kuletakkan di sisi meja kerja, bersebelahan dengan layar yang menyala sejak tadi. Kalender penuh warna, notifikasi berlapis, angka-angka yang menuntut selesai hari ini juga. Di antara semua itu, Es Americanoku hanya diam. Tidak mendesak. Tidak menuntut. Aku familiar dengan rasanya. Sedikit pahit, ringan, bersih. Rasa yang akan selalu kupilih karena sederhana dan tidak menyita waktu saat membuatnya. Tapi aku menundanya. “Nanti,” kataku, sambil menutup satu pekerjaan dan membuka yang lain. Satu email dibalas cepat. Satu tabel dirapikan. Satu rapat disiapkan, meski tubuh sudah ingin diam. Setiap hari, menunda diri sendiri terasa wajar. Kita terbiasa menunda hal-hal kecil demi menyelesaikan sesuatu  yang dianggap besar. Saat akhirnya aku menyesap kopi itu, dinginnya sudah berbeda. Bukan lagi menyegarkan, melainkan hambar. Seperti jeda yang datang terlambat. Sepe...

Hujan Sore Hari

Image
Jam kerja telah usai, tapi kursiku belum bergeser. Lampu kantor masih menyala, pendingin ruangan berdengung setia, dan layar di depanku memantulkan wajah yang tampak selesai, padahal belum benar-benar ingin pulang. Biasanya, berdiam terlalu lama di tempat kerja setelah jam usai terasa seperti kesalahan kecil yang tidak tertulis. Seolah-olah diam tanpa tugas adalah bentuk kemalasan yang harus segera ditebus dengan setumpuk pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan esok hari. Sore itu aku sudah lelah, aku bersiap untuk pulang. Tas tergantung di bahu, tumbler di tangan. Lalu hujan turun. Tidak deras, tidak dramatis. Hanya cukup untuk membuat dunia melambat satu tingkat. Cukup untuk membuat pulang terasa tidak mendesak. Hujan selalu begitu. Ia tidak menyuruh berhenti, tapi memberi alasan yang tidak perlu dipertanggungjawabkan. Di bawah hujan, menunda bukan kemalasan. Berhenti sebentar bukan kegagalan. Aku kembali duduk. Bukan untuk bekerja lagi, tapi untuk menikmati hujan dan waktu yang be...

Tyson, The Son of Poseidon

Image
Aku sudah puluhan kali menonton ulang Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief dan Percy Jackson: Sea of Monsters . Dan anehnya, dari sekian banyak tokoh, justru Tyson yang paling sering tinggal di kepalaku. Bukan Percy. Bukan Annabeth. Tyson. Tyson yang bertubuh besar, bermata satu, berbicara terpatah-patah, sering dianggap bodoh, salah tempat, dan salah wujud. Tyson yang bahkan keberadaannya sendiri terasa seperti kesalahan di dunia manusia maupun dunia para dewa. Jika Tyson hidup di dunia kita hari ini, mungkin ia akan menjadi orang yang sering disuruh diam dalam rapat. Orang yang idenya tidak dianggap karena cara bicaranya tidak rapi. Orang yang niatnya baik, tapi hasilnya dianggap merepotkan. Tyson tidak pernah benar-benar “pas”. Ia terlalu aneh untuk manusia. Terlalu lembut untuk monster. Terlalu polos untuk dunia yang gemar menghakimi. Dan justru di situlah hidupnya berbicara. Tyson tidak pernah bertanya apa takdir besarnya. Ia membantu bukan karena ingin...

Di Sudut Kedai Kopi

Image
Aku duduk agak lama di sebuah kedai kopi, cukup lama untuk melihat orang-orang datang dan tidak terburu-buru pergi Seorang perempuan duduk sendiri, earphone menutup telinganya kepalanya bergerak kecil seperti sedang mengangguk pada lagu atau pada pikirannya sendiri. Aku tak tahu dan rasanya tak perlu tahu Di meja seberang dua orang saling berhadapan yang satu sibuk menatap layar, yang satu sibuk menjaga suasana Tatapan yang tidak meminta, tidak juga pergi ia tinggal, menunggu percakapan menemukan jalannya Dekat jendela, sebuah keluarga berbagi sore gelas-gelas sederhana, tawa yang tidak dibuat-buat, cerita yang tidak penting namun cukup untuk membuat mereka memilih tetap duduk sedikit lebih lama Aku menyadari tidak semua orang datang ke sini untuk kopi Sebagian datang untuk menunda pulang sebagian ingin merasa ditemani, meski sendirian Di kedai kopi ini, aku menyadari setiap orang datang membawa sisa harinya dan menaruhnya di meja Di kedai kopi ini, aku mengerti mengapa se...

(Aku) Manusia Berisik

Image
Ada hari-hari ketika dunia terasa terlalu ramai, padahal tidak ada yang benar-benar berteriak. Suaranya datang dari mana-mana. Dari percakapan yang tak kunjung selesai, dari pesan yang datang bertubi-tubi, dari opini yang dilontarkan tanpa jeda. Semua ingin didengar, semua ingin dianggap benar. Aku pun bagian dari keramaian itu. Aku manusia berisik. Bukan karena suaraku paling lantang, tapi karena kadang pikiranku sering terlalu penuh. Ada banyak hal yang ingin kujelaskan, kuluruskan, kubenarkan. Aku terbiasa berbicara dengan logika, merasa niat baik sudah cukup sebagai alasan. Padahal niat baik tidak selalu berarti cara yang baik. Sering kali aku lupa, bahwa lidah memang tertutup gigi bukan tanpa alasan. Aku lupa bahwa kata-kata yang keluar terlalu cepat bisa meninggalkan bekas yang lebih lama daripada yang kuperkirakan. Aku lupa bahwa kebenaran yang disampaikan tanpa kehati-hatian tetap bisa melukai. Aku lupa bahwa hidup ini, pada akhirnya, hanya persinggahan singkat. ...

Dorstenia Foetida

Image
Di antara deretan tanaman gurun yang tumbuh sabar dan lambat, Dorstenia Foetida selalu tampak seperti salah tempat. Ia disebut tanaman gurun, tapi tidak sepenuhnya menyukai kekeringan. Ia justru cukup menyukai air, asal akarnya diberi ruang bernapas. Media tanamnya harus super poros, ringan, berlubang, seolah ia paham betul bahwa bertahan hidup bukan soal menahan segalanya, tapi tahu kapan harus melepaskan. Awalnya aku menganggapnya sekadar tanaman unik. Bentuknya aneh, sedikit liar, tidak simetris. Ia tidak berusaha terlihat cantik, tidak pula berusaha menyesuaikan diri dengan barisan tanaman gurun lain yang tumbuh perlahan dan penuh perhitungan. Lalu suatu hari, ia berbunga. Bunganya kecil, nyaris tidak terasa sebagai perayaan. Tidak mencolok, tidak meminta diperhatikan. Tapi dari satu bunga itu, biji-biji kecil muncul begitu saja. Tanpa disemai. Tanpa bantuan. Tanpa perlu dipindahkan serbuk sarinya. Seolah Dorstenia Foetida tahu sendiri kapan waktunya beranak. Dan biji-biji itu...

Bahagia Itu (ternyata tidak) Sederhana

Image
“Bahagia itu sederhana.” Orang-orang sering mengatakannya dengan nada yakin, seolah kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa diraih, tanpa banyak pertimbangan, tanpa banyak pengorbanan. Aku dulu hampir percaya. Sampai suatu hari aku menyadari, yang disebut sederhana sering kali hanya terlihat sederhana dari luar. Di layar ponsel, unggahanku tampak mudah ditebak. Lampu panggung. Sorak sorai. Wajahku yang tersenyum di tengah lautan manusia. Caption pendek tentang bahagia, tentang akhirnya bisa menonton konser idolaku yang sudah lama kutunggu. Yang tidak terlihat adalah tabungan yang harus kugeser posisinya. Uang yang sebenarnya disiapkan untuk rasa aman, bukan untuk euforia. Ada diskusi panjang dengan diri sendiri sebelum menekan tombol beli tiket. Ada hitung-hitungan yang tidak pernah muncul di Instagram. Yang tidak terlihat juga adalah antrean sejak pagi, padahal pintu konser baru dibuka menjelang sore. Berdiri berjam-jam, menahan panas yang memantul dari aspal, lalu hujan yang datang ...

Kunjungan dari Tuhan

Image
​Pagi itu, kantorku masih menjadi tempat yang paling menyebalkan di dunia. ​Kertas-kertas penuh coretan menumpuk di meja, notifikasi email tak henti-henti berbunyi, dan daftar pekerjaan menggantung seperti tenggat yang selalu mundur. Napasku pendek, bahuku kaku, dan kepalaku terasa berat oleh beban ekspektasi. Aku sedang dalam mode bertahan hidup, fokus pada satu hal: menyelesaikan semuanya sendiri. ​Lalu, di tengah kekacauan itu, aku tahu. ​Ada seseorang sedang berdiri di depan pintu ruang kerjaku. Aku menghela napas panjang, kesal bukan main. "Saat ini sedang deadline , tak bisakah memilih hari lain?" aku menggerutu dalam hati, jari-jariku masih sibuk mengetik dengan kasar. ​Saat pintu terbuka, aku memaksakan sebuah senyum palsu. Siapa yang boleh menggerutu saat menyapa tamu? Namun, saat aku menyadari siapa yang ada di balik pintu, tanganku seketika gemetar di gagang pintu. ​Dadaku hangat, kepala langsung penuh. Tuhan yang sedang bertamu. ​“Masuk,” kataku, tergesa, su...

Apel & Pilihan Hidup

Image
Di meja kayu kecil di sudut ruangan, terletak sekeranjang apel merah. Apel-apel itu dibagikan di akhir sebuah pertemuan, tanpa instruksi apa pun. Tidak ada aturan. Tidak ada saran. Aku menggigit apelku saat itu juga. Rasanya segar, sedikit asam, cukup manis. Bagiku, itu cara paling sederhana. Apel ya dimakan saja. Di seberangku, Doni memotong apelnya kecil-kecil, mencampurnya dengan buah lain. Katanya, ia suka memahami rasa dengan perlahan. Sedikit ini, sedikit itu. Ia ingin tahu bagaimana apel berbaur, bukan berdiri sendiri. Beberapa kursi dari kami, Tedy memilih memblender apelnya. Ia bilang, lebih mudah dicerna. Tidak perlu mengunyah terlalu lama. Yang penting, sari dan manfaatnya tetap masuk. Ada juga Rina. Ia mengoleskan selai kacang di potongan apelnya. Aku sempat mengernyit. Rasanya aneh, pikirku. Tapi ia tersenyum puas, seolah baru menemukan kombinasi yang pas dengan hidupnya. Kami semua memakan apel yang sama. Tapi caranya berbeda. Awalnya aku ingin berkata, “Kenapa tidak dima...

Satu Bulan Saja

Image
Sore itu, Arin kembali berdesak-desakan dengan penumpang lain di KRL. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh, dan di sela hentakan kereta yang melaju, sebuah doa kecil berulang kali muncul di kepalanya. Bukan doa yang besar. Bukan pula permintaan berlebihan. Arin hanya ingin hidupnya berbeda satu bulan saja. Dengan satu bulan itu, ia membayangkan punya motor sendiri. Tidak perlu berdesakan. Tidak perlu berjalan jauh ke stasiun. Tidak perlu tiba di rumah dengan badan lengket oleh keringat dan hati yang diam-diam iri. Kadang ia bertanya dalam hati, mengapa sesuatu yang terasa begitu sederhana justru terasa sangat jauh untuk digapai. Arin hanya bisa sekolah sampai SMA. Saat ia duduk di kelas tiga, ayahnya terkena PHK akibat pengurangan karyawan. Sejak itu, keluarga mereka hidup dari uang pesangon yang perlahan menipis. Uang itu tidak cukup untuk membiayai Arin dan impiannya. Ia pun belajar menerima kenyataan: ia harus berjuang sendiri. Setelah lulus SMA, Arin bekerja sebagai admin di sebuah per...