Satu Bulan Saja
Sore itu, Arin kembali berdesak-desakan dengan penumpang lain di KRL. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh, dan di sela hentakan kereta yang melaju, sebuah doa kecil berulang kali muncul di kepalanya.
Bukan doa yang besar. Bukan pula permintaan berlebihan. Arin hanya ingin hidupnya berbeda satu bulan saja.
Dengan satu bulan itu, ia membayangkan punya motor sendiri. Tidak perlu berdesakan. Tidak perlu berjalan jauh ke stasiun. Tidak perlu tiba di rumah dengan badan lengket oleh keringat dan hati yang diam-diam iri.
Kadang ia bertanya dalam hati, mengapa sesuatu yang terasa begitu sederhana justru terasa sangat jauh untuk digapai.
Arin hanya bisa sekolah sampai SMA. Saat ia duduk di kelas tiga, ayahnya terkena PHK akibat pengurangan karyawan. Sejak itu, keluarga mereka hidup dari uang pesangon yang perlahan menipis. Uang itu tidak cukup untuk membiayai Arin dan impiannya. Ia pun belajar menerima kenyataan: ia harus berjuang sendiri.
Setelah lulus SMA, Arin bekerja sebagai admin di sebuah perusahaan kecil di tengah kota. Gajinya hanya cukup untuk hidup sehari-hari dan sedikit menabung. Ia menyimpan satu cita-cita: menjadi akuntan.
Di luar jam kerja, Arin punya usaha sampingan. Ia menjual merchandise. Ia pandai menggambar karikatur dan mewarnai. Apa pun yang terlintas di kepalanya bisa langsung ia visualisasikan di atas kertas. Gambar-gambarnya ia jadikan gantungan kunci, sampul buku, apa saja yang bisa dijual. Hasilnya tidak seberapa, tapi cukup untuk ditabung. Untuk motor Scoopy impiannya.
Menggambar bukan hobinya. Namun tak apa. Menggambar membawanya selangkah lebih dekat ke mimpinya.
Tanpa terasa, Arin sudah tiba di stasiun tujuan. Hari itu ia tidak langsung pulang. Ia bertemu Milly, sahabatnya sejak SMP. Kafe Moris tidak terlalu jauh dari stasiun, tapi cukup untuk membuat Arin kembali mengeluh dalam hati.
“Coba aku punya motor,” gumamnya. “Aku nggak perlu jalan sejauh ini.”
Saat kafe itu terlihat, Arin juga melihat sebuah mobil listrik berwarna biru langit keluaran terbaru terparkir di halaman kafe. Milik Milly.
“Oh Tuhan,” bisiknya. “Andai aku bisa jadi Milly satu bulan saja. Aku ingin tahu rasanya hidup berkelimpahan.”
Begitu masuk, hembusan dingin AC menyentuh kulitnya yang masih basah oleh keringat. Arin melihat Milly duduk di sudut, fokus menggambar di tablet miliknya. Milly terlihat cantik, rapi, dan tenang. Tidak berkeringat. Tasnya indah. Bajunya pas. Sandal yang dipakainya pun tampak mahal.
Milly sedang mengejar passion-nya sebagai ilustrator. Ia tidak dikejar tenggat, tidak dimarahi bos. Semua yang Arin inginkan seolah ada pada diri sahabatnya itu.
Sejak kelas tiga SMA, Arin menyimpan satu mimpi tambahan: ia ingin menjadi Milly. Satu bulan saja.
.................
Siang itu, Milly baru bangun tidur. Semalam ia begadang, mencoba menyelesaikan ilustrasi yang sejak pagi memenuhi kepalanya. Namun tak satu pun goresan terasa benar. Semua tampak salah. Ia menangis. Frustrasi.
Ia suka menggambar. Tapi mengapa Tuhan tidak memberinya bakat itu?
Ia sudah berlatih setiap hari selama tiga tahun. Ia mengikuti berbagai kursus intensif. Orang-orang bilang usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Namun Milly merasa sebaliknya. Ia lelah dikhianati oleh harapannya sendiri.
Di luar kamar, rumah terasa kosong. Hanya Bibi Atun yang sedang mengelap meja.
“Non Milly, Bi Atun sudah siapkan sup iga kesukaan Non. Ayo makan dulu.”
Milly menggeleng pelan. Nafsu makannya menghilang.
“Tadi Ibu telepon,” lanjut Bibi. “Katanya Ibu dan Bapak baru pulang minggu depan. Uang buat Non sudah ditransfer seperti biasa.”
Entah kenapa, kalimat itu justru membuat dada Milly semakin sesak. “Bi, aku mau ke kafe sama Arin dulu ya. Nanti pulang baru makan.”
Di Kafe Moris, Milly datang lebih dulu. Ia memesan mocha praline frappucinno dengan ekstra krim manis, lalu membuka tablet. Ia berharap manisnya minuman itu bisa melunakkan pikirannya.
Tak lama kemudian, suara Arin terdengar. “Mill, sorry aku telat. Panas banget di luar. Aku ke toilet dulu ya. Titip tas aku.”
Mata Milly tertuju pada gantungan tas buatan Arin. Sederhana, tapi hidup.
“Tuhan,” bisiknya. “Apa yang harus aku lakukan supaya bisa menggambar seperti Arin? Aku ingin jadi dia. Aku ingin tahu rasanya bisa menuangkan imajinasiku.”
Saat Arin kembali, wajahnya tampak segar meski tanpa riasan. Milly tersenyum dan menyambutnya hangat. Ia melupakan lamunannya. Arin adalah satu-satunya sahabatnya. Sebagai anak tunggal yang sering sendiri, Arin adalah harta paling berharga bagi Milly. Arin selalu mendengarkan. Membuatnya tidak merasa kesepian.
Malam pun tiba.T iba-tiba, dari arah pintu kafe terdengar suara lembut.
“Arin, Milly.”
“Eh, Om,” sapa Milly. “Kok tiba-tiba di sini?”
Om Tedjo tersenyum. “Om mau jemput Arin. Kasihan kalau harus berdesakan di KRL sendirian.”
Arin berdiri menyambut ayahnya dengan wajah sumringah.
Milly ikut tersenyum melihat Arin berdiri di samping Om Tedjo. Pemandangan itu sederhana. Hangat. Sesuatu yang tidak pernah ia miliki, meski rumahnya luas dan hidupnya tampak sempurna.
Saat Arin berpamitan dan melangkah keluar kafe, Milly tetap duduk di tempatnya. Tangannya menggenggam cangkir yang basah karena es yang mencair. Matanya mengikuti punggung sahabatnya hingga menghilang di balik pintu kaca. Di dalam hatinya, doa itu kembali terucap. Pelan. Jujur.
“Tuhan, izinkan aku menjadi Arin. Satu bulan saja.”
...................
Di peron stasiun, Kereta datang dengan suara berderit yang familiar. Tubuh-tubuh saling berhimpitan seperti biasa. Namun malam itu, Arin tidak sendiri. Ada Ayahnya disampingnya.
Di antara bising rel dan pantulan wajahnya di jendela kereta, Dadanya terasa ringan, tapi pikirannya kembali berkelana. Ia teringat Milly. Hidupnya. Kebebasannya. Dunia yang tampak mudah baginya.
Arin tersenyum tipis. “Tuhan,” bisiknya, hampir tak terdengar. “Kalau boleh.. izinkan aku menjadi Milly. Satu bulan saja.”
Ilustrasi pada tulisan ini dibuat dengan bantuan AI (Google Gemini)

Comments
Post a Comment