Dorstenia Foetida
Di antara deretan tanaman gurun yang tumbuh sabar dan lambat, Dorstenia Foetida selalu tampak seperti salah tempat.
Ia disebut tanaman gurun, tapi tidak sepenuhnya menyukai kekeringan. Ia justru cukup menyukai air, asal akarnya diberi ruang bernapas. Media tanamnya harus super poros, ringan, berlubang, seolah ia paham betul bahwa bertahan hidup bukan soal menahan segalanya, tapi tahu kapan harus melepaskan.
Awalnya aku menganggapnya sekadar tanaman unik. Bentuknya aneh, sedikit liar, tidak simetris. Ia tidak berusaha terlihat cantik, tidak pula berusaha menyesuaikan diri dengan barisan tanaman gurun lain yang tumbuh perlahan dan penuh perhitungan.
Lalu suatu hari, ia berbunga.
Bunganya kecil, nyaris tidak terasa sebagai perayaan. Tidak mencolok, tidak meminta diperhatikan. Tapi dari satu bunga itu, biji-biji kecil muncul begitu saja. Tanpa disemai. Tanpa bantuan. Tanpa perlu dipindahkan serbuk sarinya. Seolah Dorstenia Foetida tahu sendiri kapan waktunya beranak.
Dan biji-biji itu melompat.
Aku menemukannya di sela ubin, di sudut ruangan, di pot tanaman lain yang tidak pernah kumaksudkan untuk berbagi ruang. Dorstenia Foetida yang awalnya satu, tiba-tiba menjadi dua. Lalu lima. Lalu dua puluh.
Lucu, pikirku. Menyenangkan.
Seperti keajaiban kecil yang terjadi tanpa usaha.
Aku mengumpulkan bijinya dengan perasaan riang, menatanya satu per satu, menyaksikan hidup bertambah begitu cepat dari sesuatu yang awalnya hanya satu batang sunyi. Ada rasa puas melihat sesuatu berkembang pesat, seolah hidup sedang bermurah hati.
Namun waktu pelan-pelan mengubah rasa itu.
Pertumbuhannya terlalu cepat. Terlalu agresif untuk ukuran tanaman gurun. Ia tumbuh mendahului yang lain, mengambil ruang, menyedot nutrisi, menabrak ritme tanaman gurun lain yang sejak awal memilih hidup perlahan.
Di pot yang ia singgahi, tanaman lain mulai terdesak. Akar mereka kalah cepat. Ruang bernapas menyempit. Bukan karena mereka lemah, tapi karena Dorstenia Foetida terlalu subur untuk ruang yang tidak pernah disiapkan baginya.
Aku mulai lelah membersihkan biji yang tak henti melompat.
Mulai terganggu oleh hidup yang terlalu mudah berkembang.
Mulai bertanya, apakah sesuatu yang tumbuh cepat selalu berarti baik.
Dorstenia Foetida tidak salah.
Ia hanya hidup sesuai kodratnya.
Masalahnya adalah aku yang menaruhnya di ruang bersama, berharap semua bisa tumbuh berdampingan tanpa saling mengganggu, tanpa menyadari bahwa tidak semua kehidupan cocok berbagi ritme yang sama.
Dari Dorstenia Foetida aku belajar tentang manusia.
Bahwa bertumbuh adalah kebutuhan, bukan pilihan.
Tidak ada hidup yang diminta untuk diam selamanya.
Namun dalam hidup, pertumbuhan juga menuntut kesadaran.
Bahwa ruang ini tidak hanya milik kita, dan laju kita tidak selalu bisa dipaksakan pada semua orang.
Batas bukanlah penghalang tumbuh.
Ia justru penanda agar pertumbuhan kita tidak berubah menjadi sesuatu yang diam-diam mematikan kehidupan lain.
Dan barangkali Dorstenia Foetida itu bukan selalu orang lain.
Kadang, ia adalah diri kita sendiri.
Yang terus bertumbuh, merasa wajar, merasa benar, lalu lupa menoleh ke sekitar.
Pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling cepat berkembang,
melainkan siapa yang mampu bertumbuh tanpa mencabut akar kehidupan orang lain.

Comments
Post a Comment