Bahagia Itu (ternyata tidak) Sederhana
“Bahagia itu sederhana.”
Orang-orang sering mengatakannya dengan nada yakin, seolah kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa diraih, tanpa banyak pertimbangan, tanpa banyak pengorbanan.
Aku dulu hampir percaya. Sampai suatu hari aku menyadari, yang disebut sederhana sering kali hanya terlihat sederhana dari luar.
Di layar ponsel, unggahanku tampak mudah ditebak. Lampu panggung. Sorak sorai. Wajahku yang tersenyum di tengah lautan manusia. Caption pendek tentang bahagia, tentang akhirnya bisa menonton konser idolaku yang sudah lama kutunggu.
Yang tidak terlihat adalah tabungan yang harus kugeser posisinya. Uang yang sebenarnya disiapkan untuk rasa aman, bukan untuk euforia. Ada diskusi panjang dengan diri sendiri sebelum menekan tombol beli tiket. Ada hitung-hitungan yang tidak pernah muncul di Instagram.
Yang tidak terlihat juga adalah antrean sejak pagi, padahal pintu konser baru dibuka menjelang sore. Berdiri berjam-jam, menahan panas yang memantul dari aspal, lalu hujan yang datang tanpa permisi. Pakaian basah. Sepatu lembap. Tubuh lelah. Perut lapar. Tapi tetap bertahan, karena pulang sebelum waktunya terasa lebih menyakitkan.
Di layar orang lain, mungkin itu tampak sederhana. Datang, menonton, pulang dengan kenangan. Tapi di dalamnya, ada usaha yang panjang. Ada ketidaknyamanan yang dipilih dengan sadar. Ada kelelahan yang diterima tanpa banyak keluhan.
Aku jadi paham, kebahagiaan jarang datang tanpa harga.
Seperti mereka yang bilang bahagia itu bisa diam di rumah sambil menonton serial favorit. Kalimat yang terdengar ringan, sampai kita ingat bahwa tidak semua orang punya rumah yang aman, listrik yang stabil, atau pikiran yang cukup tenang untuk sekadar duduk dan menikmati cerita.
Bahkan hal-hal yang sering disebut paling sederhana sekalipun hampir selalu lahir dari sesuatu yang rumit.
Lalu ada yang berdiri di puncak gunung yang tinggi, memotret cahaya pagi, dan menuliskan bahwa bahagia hanyalah soal melihat matahari terbit. Padahal sebelum sampai di sana, ada napas yang tertahan, langkah yang dipaksakan, ransel yang memberatkan bahu, air mata yang nyaris tumpah dan tubuh yang nyaris menyerah berkali-kali. Tidak ada yang sederhana dari perjalanan itu. Yang terlihat hanya hasilnya, bukan prosesnya.
Aku mulai percaya bahwa yang disebut sederhana sering kali hanyalah bagian akhir dari sesuatu yang panjang dan melelahkan.
Jika bahagia benar-benar sederhana, manusia tidak akan terus mencarinya. Tidak akan ada proses menabung diam-diam. Tidak akan ada tubuh yang dipaksa bertahan di tengah panas dan hujan. Tidak akan ada senyum yang lahir setelah hari yang melelahkan.
Bahagia tidak pernah berdiri sendiri. Ia membawa cerita yang tidak selalu dibagikan. Ia lahir dari pilihan-pilihan kecil yang tidak selalu mudah. Dari keputusan untuk tetap datang, tetap bertahan, tetap berharap.
Dan mungkin memang tidak apa-apa jika bahagia itu tidak sederhana.
Karena itu berarti setiap kebahagiaan adalah hasil dari keberanian. Keberanian untuk memilih sesuatu yang membuat hidup terasa lebih hidup, meski harus dibayar dengan lelah, waktu, dan pengorbanan yang tidak terlihat.
Bahagia selalu datang dengan jejak. Jejak lelah. Jejak ragu. Jejak keputusan yang tidak selalu nyaman. Dan setiap orang meninggalkan jejak yang berbeda.
Maka mungkin tidak apa-apa jika bahagia itu ternyata tidak sederhana.
Karena justru di situlah nilainya. Bahwa ia patut diperjuangkan.

Comments
Post a Comment