Hujan Sore Hari
Jam kerja telah usai, tapi kursiku belum bergeser. Lampu kantor masih menyala, pendingin ruangan berdengung setia, dan layar di depanku memantulkan wajah yang tampak selesai, padahal belum benar-benar ingin pulang.
Biasanya, berdiam terlalu lama di tempat kerja setelah jam usai terasa seperti kesalahan kecil yang tidak tertulis. Seolah-olah diam tanpa tugas adalah bentuk kemalasan yang harus segera ditebus dengan setumpuk pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan esok hari.
Sore itu aku sudah lelah, aku bersiap untuk pulang. Tas tergantung di bahu, tumbler di tangan. Lalu hujan turun. Tidak deras, tidak dramatis. Hanya cukup untuk membuat dunia melambat satu tingkat. Cukup untuk membuat pulang terasa tidak mendesak.
Hujan selalu begitu. Ia tidak menyuruh berhenti, tapi memberi alasan yang tidak perlu dipertanggungjawabkan. Di bawah hujan, menunda bukan kemalasan. Berhenti sebentar bukan kegagalan.
Aku kembali duduk. Bukan untuk bekerja lagi, tapi untuk menikmati hujan dan waktu yang berlalu dengan lambat. Di balik jendela, lampu jalan mulai menyala, air mengalir pelan di kaca jendela, dan untuk pertama kalinya di hari itu, aku tidak merasa harus segera menjadi siapa-siapa.
Aku sadar, selama ini aku sering memaksa diriku bergerak karena merasa tidak pantas berhenti tanpa sebab yang jelas. Padahal lelah tidak selalu butuh pembenaran besar. Kadang, ia hanya ingin diakui.
Hujan sore hari itu tidak mengganggu pekerjaanku. Ia datang setelah semuanya selesai. Datang tepat waktu mengingatkanku untuk berhenti sejenak.

Comments
Post a Comment