Dua Tiga : Lima Sembilan

Jam menunjukkan hampir tengah malam.

Di luar, kota sudah lebih dulu berisik. Kembang api muncul sebelum waktunya, klakson bersahutan, dan orang-orang tertawa seolah-olah besok tidak perlu bangun pagi.

Aku ikut tersenyum. Bukan karena semuanya sempurna. Justru karena tahun ini jauh dari kata mudah.

2025 datang tanpa basa-basi. Ia mengajakku berlari, tersandung, lalu berdiri lagi. Ia mengajariku banyak hal tanpa buku panduan. Tentang bertahan di hari yang panjang, tentang menyelesaikan hal-hal yang dulu terasa terlalu berat, tentang tetap melangkah meski kadang sambil menyeret kaki.

Aku tidak selalu menang dengan cara yang indah. Ada hari-hari ketika aku pulang dengan kepala penuh dan tenaga habis. Ada keputusan yang membuatku ragu, ada proses yang memaksaku belajar lebih cepat dari yang kuinginkan.

Tapi aku bertahan. Dan mungkin lebih dari itu, aku bertumbuh.

Aku melihat ke belakang, dan hampir tidak mengenali diriku yang di awal tahun. Yang lebih mudah panik. Yang terlalu keras pada diri sendiri. Yang mengira semua harus sempurna agar bisa disebut berhasil.

Tahun ini mengajarkanku versi keberhasilan yang baru. Keberhasilan untuk tetap hadir. Keberhasilan untuk bangkit, berkali-kali. Keberhasilan untuk tidak berhenti hanya karena lelah.

Aku bersyukur untuk semua prosesnya. Untuk hari-hari yang melelahkan tapi produktif. Untuk momen kecil yang terasa sederhana tapi bermakna. Untuk diri sendiri yang tidak menyerah, bahkan saat rasanya ingin berhenti sebentar lebih lama.

Pukul dua tiga lima sembilan.

Satu menit sebelum tahun berganti, aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya mengucapkan terima kasih. Kepada hidup. Kepada waktu. Kepada diriku sendiri.

Tahun baru akan dimulai dengan suara riuh dan cahaya di langit. Dan aku menyambutnya dengan satu perasaan yang utuh.

Bangga.

Bangga karena aku masih di sini. Masih belajar. Masih tumbuh. Masih melangkah, dengan versi diriku yang lebih kuat dari sebelumnya.

Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella