Apel & Pilihan Hidup
Di meja kayu kecil di sudut ruangan, terletak sekeranjang apel merah. Apel-apel itu dibagikan di akhir sebuah pertemuan, tanpa instruksi apa pun. Tidak ada aturan. Tidak ada saran.
Aku menggigit apelku saat itu juga. Rasanya segar, sedikit asam, cukup manis. Bagiku, itu cara paling sederhana. Apel ya dimakan saja.
Di seberangku, Doni memotong apelnya kecil-kecil, mencampurnya dengan buah lain. Katanya, ia suka memahami rasa dengan perlahan. Sedikit ini, sedikit itu. Ia ingin tahu bagaimana apel berbaur, bukan berdiri sendiri.
Beberapa kursi dari kami, Tedy memilih memblender apelnya. Ia bilang, lebih mudah dicerna. Tidak perlu mengunyah terlalu lama. Yang penting, sari dan manfaatnya tetap masuk.
Ada juga Rina. Ia mengoleskan selai kacang di potongan apelnya. Aku sempat mengernyit. Rasanya aneh, pikirku. Tapi ia tersenyum puas, seolah baru menemukan kombinasi yang pas dengan hidupnya.
Kami semua memakan apel yang sama. Tapi caranya berbeda.
Awalnya aku ingin berkata, “Kenapa tidak dimakan saja seperti ini? Lebih alami.”
Tapi kalimat itu berhenti di pikiranku.
Karena kulihat, tidak ada satu pun dari mereka yang tidak menikmati apelnya.
Beberapa waktu berlalu. Obrolan bergeser ke hal-hal yang lebih besar: keyakinan, cinta, pilihan hidup. Anehnya, polanya sama.
Ada yang menemukan Tuhan dengan berpegang teguh sejak awal. Ada yang justru mengenal-Nya setelah berjalan jauh, membaca banyak jalan lain. Bahkan ada yang menemui-Nya setelah tersesat berkali-kali, lelah, dan nyaris menyerah.
Ada yang percaya cinta harus satu arah dan satu orang. Ada yang tersesat di banyak persimpangan sebelum akhirnya tahu, apa yang ingin dijaga.
Dulu, aku sering gelisah melihat pilihan orang lain. Terlalu berisik. Terlalu berbelok. Terlalu tidak seperti caraku.
Dulu, aku ingin menyelamatkan semua orang. Menarik mereka ke jalanku. Meyakinkan bahwa caraku lebih aman, lebih cepat, lebih benar.
Sekarang aku mulai paham.
Bukan karena aku selalu setuju, tapi karena aku sadar: belajar tidak selalu harus melalui jalan yang sama.
Beberapa orang hanya butuh dimengerti. Bahwa proses mereka bukan kekacauan, tapi usaha.
Sejak itu, aku belajar menahan lidah dan ego. Belajar duduk diam saat ingin mengoreksi. Belajar percaya bahwa orang lain juga sedang belajar, meski caranya tidak mirip denganku.
Apel tetap apel. Pelajaran tetap pelajaran. Maknanya tetap bisa sampai, meski jalannya berliku.
Yang sulit bukan menerima perbedaan cara. Yang sulit adalah berhenti merasa caraku paling benar.
Sejak hari itu, aku juga belajar melakukan satu hal yang tidak pernah diajarkan secara langsung: menghormati proses orang lain, sambil tetap berjalan di jalanku sendiri.
Karena ternyata, hidup tidak meminta kita menyeragamkan langkah. Hidup hanya meminta kita saling tidak menghalangi.

Comments
Post a Comment