Sisa 6 Hari Lagi

Resolusi itu dulu kutulis dengan perasaan ringan.

Awal tahun, saat pagi terasa lebih panjang dan harapan belum banyak diganggu kenyataan. Aku menulisnya pelan-pelan, seperti sedang mengobrol dengan versi diriku di masa depan. “Semoga ya,” kataku waktu itu. Dan entah kenapa, aku tersenyum.

Sekarang tanggal 25 Desember. Enam hari lagi sebelum tahun ini benar-benar pamit. Dan sekarang aku membaca ulang daftar itu sambil tersenyum yang berbeda. Bukan senyum penuh ambisi, tapi senyum seseorang yang sudah cukup jauh berjalan.

Beberapa resolusi tercentang. Beberapa masih setengah jalan. Dan ada juga yang berubah bentuk, karena hidup rupanya suka memberi versi alternatif yang tidak tercantum di rencana.

Lucunya, aku tidak merasa gagal. Yang kurasakan justru rasa akrab.
Akrab dengan lelah, akrab dengan jeda, akrab dengan diriku sendiri yang ternyata lebih kuat dari yang kupikir.

Sepanjang tahun ini, aku belajar bahwa bertumbuh tidak selalu terlihat dramatis. Kadang ia hadir dalam bentuk memilih pulang lebih cepat. Menolak hal yang tidak perlu. Atau membiarkan diri beristirahat tanpa merasa bersalah.

Resolusi tentang “lebih” ternyata sering dijawab dengan “cukup”. Cukup berani. Cukup jujur. Cukup bertahan di hari-hari biasa yang ternyata sangat berarti.

Enam hari menjelang akhir tahun, aku tidak ingin menilai.
Aku ingin merayakan. Hal-hal kecil yang dulu mungkin kulewatkan. Hari-hari yang berjalan tanpa sorak-sorai, tapi tetap layak disyukuri.

Sebentar lagi kalender berganti. Aku tahu aku akan menulis resolusi lagi. Dengan harapan yang lebih tenang dan ekspektasi yang lebih ramah.

Bukan karena ingin menjadi versi terbaik, tapi karena ingin menjadi versi yang terus belajar menikmati perjalanan. Dan mungkin, itu cara paling ceria untuk menutup tahun ini.

Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella