(Aku) Manusia Berisik
Ada hari-hari ketika dunia terasa terlalu ramai, padahal tidak ada yang benar-benar berteriak. Suaranya datang dari mana-mana.
Dari percakapan yang tak kunjung selesai, dari pesan yang datang bertubi-tubi, dari opini yang dilontarkan tanpa jeda.
Semua ingin didengar, semua ingin dianggap benar.
Aku pun bagian dari keramaian itu. Aku manusia berisik.
Bukan karena suaraku paling lantang, tapi karena kadang pikiranku sering terlalu penuh.
Ada banyak hal yang ingin kujelaskan, kuluruskan, kubenarkan.
Aku terbiasa berbicara dengan logika, merasa niat baik sudah cukup sebagai alasan. Padahal niat baik tidak selalu berarti cara yang baik.
Sering kali aku lupa, bahwa lidah memang tertutup gigi bukan tanpa alasan.
Aku lupa bahwa kata-kata yang keluar terlalu cepat bisa meninggalkan bekas yang lebih lama daripada yang kuperkirakan.
Aku lupa bahwa kebenaran yang disampaikan tanpa kehati-hatian tetap bisa melukai.
Aku lupa bahwa hidup ini, pada akhirnya, hanya persinggahan singkat.
Di suatu jeda yang sunyi, aku mulai menyadari sesuatu.
Tidak semua yang kupikirkan harus diucapkan. Tidak semua yang kurasa benar perlu disuarakan.
Ada kalanya, diam bukan berarti kalah, melainkan memilih untuk tidak menambah beban di hati orang lain.
Kalimat itu datang pelan, seperti bisikan yang menenangkan "Don't be the cause of someone elses pain, instead be the reason for them to smile."
Sejak saat itu, aku belajar menimbang.
Bukan hanya apa yang ingin kukatakan, tetapi juga dampaknya.
Aku belajar bahwa empati bukan sekadar memahami, melainkan juga menahan diri. Bahwa menjaga perasaan orang lain kadang dimulai dari keberanian untuk tidak berbicara.
Aku masih manusia berisik.
Aku masih bisa lupa.
Namun kini, sebelum kata-kata keluar, aku memberi ruang sejenak untuk bertanya pada diri sendiri.
Apakah ini perlu diucapkan?
Apakah ini akan menguatkan, atau justru melukai?
Jika jawabannya tidak jelas, aku memilih diam.
Karena tidak semua harus terucap.
Dan kadang, senyap adalah bentuk kepedulian yang paling tulus.
Seperti dalam lagu Berisik yang dinyanyikan oleh Dere, tulisan ini bukan tentang merasa paling benar.
Ini hanya pengakuan jujur, bahwa aku pun masih belajar.
Belajar bicara secukupnya, agar kehadiranku tidak menjadi sumber luka, melainkan alasan kecil bagi seseorang untuk tersenyum.

Comments
Post a Comment