Kunjungan dari Tuhan


​Pagi itu, kantorku masih menjadi tempat yang paling menyebalkan di dunia.

​Kertas-kertas penuh coretan menumpuk di meja, notifikasi email tak henti-henti berbunyi, dan daftar pekerjaan menggantung seperti tenggat yang selalu mundur. Napasku pendek, bahuku kaku, dan kepalaku terasa berat oleh beban ekspektasi. Aku sedang dalam mode bertahan hidup, fokus pada satu hal: menyelesaikan semuanya sendiri.

​Lalu, di tengah kekacauan itu, aku tahu.

​Ada seseorang sedang berdiri di depan pintu ruang kerjaku. Aku menghela napas panjang, kesal bukan main. "Saat ini sedang deadline, tak bisakah memilih hari lain?" aku menggerutu dalam hati, jari-jariku masih sibuk mengetik dengan kasar.

​Saat pintu terbuka, aku memaksakan sebuah senyum palsu. Siapa yang boleh menggerutu saat menyapa tamu? Namun, saat aku menyadari siapa yang ada di balik pintu, tanganku seketika gemetar di gagang pintu.

​Dadaku hangat, kepala langsung penuh. Tuhan yang sedang bertamu.

​“Masuk,” kataku, tergesa, suaraku terdengar asing.

​Aku mempersilakan-NYA duduk di kursi tamu, kursi yang jarang sekali benar-benar terpakai. Aku merasa ruang ini tidak cukup layak, tapi egoku terlalu sibuk untuk memikirkannya lama-lama. "Tuhan jangan melihat mejaku yang berantakan," pikirku panik.

​“Sebentar ya,” kataku lagi, berusaha terdengar profesional. “Masih banyak yang harus dibereskan.”

​Aku berbalik ke meja, laptop kembali terbuka. Aku berpikir laporan ini seharusnya sudah selesai kemarin. Aku membalas email sambil menyesali kenapa semuanya datang bersamaan. Aku menyusun dokumen sambil menghitung masalah hidup yang juga belum tersusun rapi.

​Aku ingin pekerjaanku terlihat pantas. Aku ingin diriku terlihat mampu. Aku tidak ingin Tuhan melihatku sebagai seseorang yang kewalahan dan gagal.

​Sesekali aku melirik ke arah kursi tamu. Tuhan duduk tenang. DIA tidak melihat jam, tidak membuka apa pun. DIA hanya duduk di sana, menungguku. Terkadang DIA melihatku, terkadang melihat berkas-berkasku yang berantakan, terkadang melihat tempelan-tempelan pengingat di dinding dekat mejaku.

​Itu justru membuatku semakin tergesa. Ketenangan-NYA terasa seperti cermin yang memantulkan kepanikanku sendiri.

​Setelah semuanya terasa “cukup”, aku duduk di hadapan-NYA. Napas masih pendek. Bahu semakin kaku. Kepala semakin berat.

​"Aku capek," kataku akhirnya, air mata tanpa sadar mulai menggenang. “Kerjaan nggak ada habisnya. Aku ngerasa harus kuat sendiri.”

​Aku mengeluh, panjang lebar. Tentang tekanan, tentang ekspektasi, tentang perasaan selalu dituntut rapi dan siap. Aku menumpahkan segalanya, semua kelemahanku yang selama ini kusembunyikan di balik tumpukan kertas laporan.

​Tuhan mendengarkan. Seperti biasa.

​Tanpa nada menghakimi, seolah DIA sudah tahu segalanya, DIA berkata pelan, “Kenapa tidak dari tadi kamu minta tolong?”

​Aku terdiam. Kalimat itu menghantamku dengan lembut.

​"Sejak Aku datang," lanjut-NYA, "Aku duduk di sini bukan untuk menilai seberapa kompeten kinerjamu. Aku datang untuk menemanimu."

​Dadaku terasa sesak dan lega bersamaan. Selama ini aku sibuk membuktikan bahwa aku sanggup. Bahwa aku kompeten. Bahwa aku pantas ditemui Tuhan dalam keadaan kuat dan terkendali. Aku sibuk "merapikan" diriku agar layak di mata-NYA.

​Padahal aku lupa satu hal sederhana. Aku tidak pernah diminta untuk selalu mampu.

​Dan pagi itu, di ruang kerja yang masih penuh pekerjaan, aku akhirnya berhenti. Ada sesuatu yang tetap tinggal di sana, membuat segalanya sedikit lebih mudah dijalani, setelah aku berhenti mencoba membuktikannya pada siapa pun, termasuk Tuhan.


Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella