Es yang Mencair Cepat
Kopi yang selalu sama setiap harinya. Americano dengan es, tanpa gula. Ia kuletakkan di sisi meja kerja, bersebelahan dengan layar yang menyala sejak tadi. Kalender penuh warna, notifikasi berlapis, angka-angka yang menuntut selesai hari ini juga. Di antara semua itu, Es Americanoku hanya diam. Tidak mendesak. Tidak menuntut.
Aku familiar dengan rasanya. Sedikit pahit, ringan, bersih. Rasa yang akan selalu kupilih karena sederhana dan tidak menyita waktu saat membuatnya.
Tapi aku menundanya. “Nanti,” kataku, sambil menutup satu pekerjaan dan membuka yang lain. Satu email dibalas cepat. Satu tabel dirapikan. Satu rapat disiapkan, meski tubuh sudah ingin diam.
Setiap hari, menunda diri sendiri terasa wajar. Kita terbiasa menunda hal-hal kecil demi menyelesaikan sesuatu yang dianggap besar.
Saat akhirnya aku menyesap kopi itu, dinginnya sudah berbeda. Bukan lagi menyegarkan, melainkan hambar. Seperti jeda yang datang terlambat. Seperti istirahat yang baru diambil setelah tubuh kehabisan rasa.
Aku menatap gelas bening di depanku. Esnya menyusut tanpa suara, air mengambil porsi lebih banyak dari kopi. Warnanya masih sama, tapi keseimbangannya berubah. Seperti hari-hari kerja yang terlihat rapi di kalender, padahal di dalamnya ada lelah yang tidak tercatat.
Aku tersenyum kecil menyadari sesuatu tentang diriku. Aku selalu tahu kapan harus mulai bekerja. Tapi aku jarang tahu kapan harus berhenti.
Berhenti sebentar. Mengendurkan bahu. Mendengar napas sendiri di tengah dengung kota. Memberi ruang untuk diam, meski hanya satu menit.
Aku sering menunggu waktu yang katanya tepat. Menunggu tugas selesai. Menunggu inbox kosong. Menunggu diriku sendiri tidak lagi dikejar apa-apa.
Padahal, seperti kopi ini, kebutuhanku tidak rumit. Ia tidak meminta libur panjang atau cuti besar. Hanya ingin diperhatikan di sela kesibukan.
Aku menyesap lagi. Rasanya tidak lagi menyenangkan, tapi tetap kutelan. Bukan karena ingin, melainkan karena sudah terlanjur. Seperti banyak hal dalam hidup yang dijalani bukan karena bahagia, melainkan karena ritme.
Besok, mungkin aku akan tetap membuat kopi yang sama.
Americano dengan es, tanpa gula.
Tapi kali ini, aku ingin meminumnya di antara pekerjaan. Bukan setelah semuanya selesai, melainkan sebelum diriku kembali hilang di dalamnya.

Comments
Post a Comment