Dari Kebaikan, Tumbuh Kebaikan


Aku datang dengan kebiasaan yang sama seperti biasanya. Makan malam di Restoran hotpot langgananku di sebuah mal. Biasanya aku selalu mencari meja di bagian dalam. Sudut yang tenang. Tempat duduk yang tidak terlalu terlihat, jauh dari lalu lalang orang, seperti ruang kecil untuk bernapas di tengah keramaian kota. Tapi malam itu, kursi-kursi favoritku sudah penuh.

Aku diarahkan ke bagian luar. Masih satu area dengan restoran, hanya saja kursiku berbatasan langsung dengan restoran sebelah. Tanpa tembok. Tanpa jarak. Tepat di samping restoran korean noodle yang baru buka hari itu juga. Ramainya bukan main.

Aku sempat menghela napas kecil. Bukan keluhan, hanya penyesuaian.

Aku duduk, sambil menunggu makananku datang, sambil sesekali melirik ke sekeliling. Orang berlalu-lalang, suara tawa, panggilan server, piring yang saling bersentuhan. Kota sedang sibuk menjalankan perannya.

Lalu, dari sampingku, terdengar percakapan. Bukan suara pelanggan yang sedang bercengkrama. Bukan pula suara dapur. Namun suara seorang manajer dan seorang server.

Nada bicaranya membuatku berhenti mengunyah.

Tidak ada bentakan. Tidak ada kalimat yang membuat bahu lawan bicaranya merunduk. Yang terdengar justru suara rendah, stabil, dan sabar.

Server itu pasti baru. Restoran pun baru buka. Mungkin ada kesalahan. Mungkin ada yang tidak berjalan sesuai prosedur. Tapi sang manajer tidak menyoroti salahnya. Ia membuka buku menu, menunjuk satu per satu, menjelaskan ulang dengan tenang. Tentang isi menu. Tentang alur kerja. Tentang bagaimana menghadapi pelanggan, terutama ketika ada komplain.

Ia memilih tempat di sudut. Menjauh dari keramaian. Menjauh dari tatapan orang lain.

Hatiku menghangat tanpa alasan yang jelas.

Makananku datang, aku memindahkan fokusku ke makananku, tapi telingaku tetap terbuka. Beberapa saat kemudian, percakapan serupa terdengar lagi. Server yang berbeda. Situasi yang sama. Nada yang tetap lembut. Di tengah kondisi restoran yang jelas-jelas sedang hectic, ia tetap memilih cara yang manusiawi.

Aku tidak mendapat meja yang kuinginkan malam itu. Tapi aku pulang dengan sesuatu yang tinggal lama.


Beberapa waktu berlalu.

Malam Natal tiba. Aku kembali ke mal yang sama, kali ini justru memilih restoran korean noodle itu. Tidak ada antrean. Sepertinya banyak orang memilih menghabiskan malam di gereja.

Saat masuk, aku langsung merasakan sesuatu yang nyaman. Suasananya.

Para server bergerak dengan ringan. Senyum mereka tulus, tidak tampak dipaksakan. Nada bicara mereka lembut, bahkan ketika restoran mulai terisi. Tidak ada wajah bersungut. Tidak ada gestur kasar yang disamarkan. Ada keceriaan dan ketulusan yang terasa jujur. Jarang sekali menemukan tempat makan dengan aura seperti itu. Apalagi di jam-jam yang rawan seperti saat ini.

Dan aku tahu, suasana tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari cara seseorang diperlakukan. Dari bagaimana seseorang diajari. Dari bagaimana cara mereka diperlakukan. Dari bagaimana kesalahan disambut.

Aku teringat percakapan yang kudengar dua bulan yang lalu. Tentang buku menu yang dibuka perlahan. Tentang suara yang memilih untuk tidak meninggi. Tentang teguran yang tidak melukai.

Aku belajar satu hal malam natal ini, bahwa kita bisa menjadi iklim bagi orang lain. Kita bisa membuat seseorang bertumbuh dengan tenang. Atau membuatnya belajar sambil menahan takut. Seperti anak kecil. Yang tumbuh di rumah penuh kasih, belajar menyapa dunia dengan ramah. Dan yang tumbuh di rumah penuh teriakan, belajar bertahan lebih dulu sebelum berani percaya.

Aku menghabiskan makananku perlahan. Tidak lagi memikirkan meja yang tidak kupilih. Karena dari situlah aku belajar, bahwa menjadi baik saat keadaan mudah adalah hal biasa. Namun memilih tetap lembut, di tengah lelah dan riuh adalah keputusan yang diam-diam mengubah banyak hal.

Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella