Medusa, Privilage yang Disewa
Tak semua kutukan datang dalam rupa yang buruk. Sebagian justru datang dalam wajah yang dipuja habis-habisan.
Medusa dulu cantik.. terlalu cantik, kata orang-orang. Cantik sampai orang-orang merasa berhak menatapnya tanpa izin. Cantik sampai kekaguman berubah menjadi klaim kepemilikan. Cantik sampai tubuhnya sendiri tak lagi dianggap miliknya.
Dunia menyukainya saat ia elok. Doa-doa menyebut namanya, dan tatapan mata memuja mengikuti setiap langkahnya. Semua pintu seolah terbuka lebar, sebab keelokan memang selalu menjadi kunci cadangan yang paling ampuh.
Lalu, satu hari, segalanya berubah. Medusa tidak lagi cantik. Rambutnya menjadi ular, wajahnya menjadi alasan ketakutan, dan tatapan matanya dianggap sebagai ancaman mematikan.
Aneh, ya?
Saat ia elok, tatapannya dianggap mengundang. Saat ia tak lagi rupawan, tatapannya dianggap sebagai serangan. Ia diasingkan hanya karena dunia tak sanggup menerima bahwa sesuatu yang pernah dipuja kini tak lagi nyaman dipandang. Orang-orang lebih mudah menyebutnya "monster" daripada mengakui kegagalan mereka dalam berempati.
Sejak itu aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dongeng: bahwa keelokan adalah privilage yang disewa, bukan dimiliki.
Selama kamu sesuai dengan selera zaman, kamu akan dilindungi. Kamu dipercaya. Kamu dimaafkan bahkan sebelum sempat meminta maaf. Namun, begitu kamu tak lagi "menyenangkan" mata, dunia akan mencabut semua kemurahan hatinya tanpa pemberitahuan.
Aku tidak seindah Medusa yang dulu, tapi aku juga tidak seburuk Medusa setelahnya. Aku berada di antara keduanya.. cukup ada, tapi tidak cukup memikat. Dan di posisi itulah, aku justru bisa melihat dunia dengan lebih jujur.
Aku melihat bagaimana yang cantik lebih cepat dimaafkan. Bagaimana yang elok lebih sering dipercaya tanpa syarat. Bagaimana mereka yang memenuhi standar jarang diminta membuktikan apa pun, sementara yang biasa-biasa saja harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk dianggap setengah layak.
Aku tidak membenci keelokan; aku pun manusia biasa yang merindukannya. Namun, aku lelah hidup di dunia yang mengukur kelayakan seseorang hanya dari simetri wajah. Aku ingin menjadi manusia yang tidak perlu elok untuk dipercaya, dan tidak perlu rusak untuk diabaikan.
Namun, aturan dunia tidak pernah sesederhana itu. Dunia tidak bekerja dengan keadilan; ia bekerja dengan selera.
Medusa tidak dikutuk karena kejahatan. Ia dikutuk karena keelokannya terlalu mudah disalahgunakan, lalu terlalu sulit dimaafkan. Orang-orang suka mengatakan Medusa berbahaya karena tatapannya, padahal yang sebenarnya berbahaya adalah cara dunia menatapnya sejak awal.
Dongeng tidak pernah ditulis untuk menjadi adil, melainkan agar nyaman didengar. Yang elok selalu punya alasan, sementara yang tak elok selalu dituntut penjelasan.
Namun, satu hal yang jarang dikatakan dongeng: keelokan akan menua, pujaan akan berpindah, dan standar akan selalu berganti. Sementara itu, mereka yang bertahan tanpa privilage keelokan akan belajar sesuatu dengan lebih sunyi, namun lebih tahan lama.
Bahwa hidup tidak harus indah untuk dianggap bernilai. Bahwa kepercayaan tidak selalu datang cuma-cuma, tapi bisa dibangun dengan nyata.
Di titik itulah, Medusa berhenti menjadi monster dan mulai menjadi cermin. Ini bukan lagi tentang siapa yang paling cantik, melainkan tentang siapa yang berani terus hidup tanpa harus bergantung pada restu dari mata orang lain.
Ilustrasi pada tulisan ini dibuat dengan bantuan AI (Google Gemini)

Comments
Post a Comment