[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih
Di sebuah gang sempit yang selalu berdebu setiap sore, dua gadis tumbuh dalam ritme yang sama: bangun sebelum fajar, berangkat sekolah, lalu bekerja hingga malam menelan kampung. Orang-orang memanggil mereka Bawang Putih dan Bawang Merah, dua kutub yang dipaksa hidup bersama setelah pernikahan orang tua mereka delapan tahun lalu. Bawang Putih berusia tujuh tahun ketika ibunya meninggal. Sejak saat itu, ia belajar bahwa senyum dan kebaikan adalah satu-satunya cara agar dunia tidak meninggalkannya lagi. Ia membersihkan rumah hingga mengilap, mencuci pakaian, mengepel lantai tanpa pernah mengeluh. Semua orang di sekolah menyukainya. Guru memujinya, teman-teman memintanya menjadi teladan. Ia menjadi “cahaya lembut” yang tak pernah redup.. bukan karena ia sempurna, tapi karena ia takut gelapnya hati akan membuat orang pergi. Bawang Merah, yang tiga hari lebih tua, sudah terbiasa menjadi pelindung sejak ayah kandungnya pergi meninggalkan ibunya. Ketika ibunya menikah lagi, ia langsung meliha...