[Sudut Pandang] Cinderella

 

Kita semua tumbuh dengan satu versi cerita Cinderella: seorang gadis cantik yang ditindas oleh ibu dan saudara tirinya, dipaksa menjadi pelayan di rumahnya sendiri, lalu pada akhirnya diselamatkan oleh seorang pangeran karena sepasang sepatu kaca. Kita diajarkan untuk mencintainya tanpa banyak bertanya. Menempatkannya di posisi paling tinggi sebagai sosok yang sabar, tulus, dan hampir terlalu murni untuk dunia yang ia tinggali. Dan tanpa sadar, kita juga belajar untuk membenci sosok ibu tiri tanpa pernah benar-benar mencoba memahami.

​Tapi bagaimana jika selama ini kita hanya mendengar cerita dari satu sisi saja?

​Bagaimana jika “penindasan” yang selama ini kita percaya, bukan sepenuhnya tentang kejahatan orang lain, melainkan tentang ketidakmampuan seseorang menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berubah?

​Bayangkan sebuah kemungkinan yang sedikit lebih pahit.

​Bagaimana jika ayah Cinderella, sosok bangsawan yang tampak sempurna itu.. meninggal dengan meninggalkan sesuatu yang tidak pernah diceritakan dalam dongeng: utang. Bukan sekadar utang kecil, tapi tumpukan kewajiban yang cukup untuk meruntuhkan sebuah rumah besar dari dalam. Pajak yang menunggak. Nama baik yang sudah digadaikan. Warisan yang, alih-alih berisi kemewahan, justru dipenuhi angka merah.

​Di titik itu, mungkin sosok yang selama ini kita sebut “ibu tiri jahat” hanyalah seorang perempuan yang tiba-tiba harus memikul semuanya sendirian. Seorang janda yang tidak punya banyak pilihan selain bertahan, apa pun caranya.. agar mereka tidak kehilangan tempat tinggal. Di rumah yang tidak lagi memiliki pelayan, seseorang harus mencuci. Seseorang harus menyapu. Seseorang harus memastikan kehidupan tetap berjalan, meskipun dengan cara yang jauh dari nyaman.

​Dan mungkin, di situlah cerita ini mulai terasa berbeda.

​Mungkin Cinderella menjadi “Upik Abu” bukan semata-mata karena ia diperlakukan tidak adil, tetapi karena keadaan memang menuntut seseorang untuk turun tangan. Namun bagi seseorang yang tumbuh dalam kenyamanan, pekerjaan kasar di rumah sendiri bisa terasa seperti penghinaan. Sesuatu yang meruntuhkan harga diri, bukan sekadar rutinitas harian.

​Lalu, alih-alih menghadapi perubahan itu, ia memilih untuk menjauh darinya.

​Ia duduk di dekat tungku, membiarkan abu menempel di gaunnya, seolah-olah itu adalah bukti penderitaan yang tidak bisa dibantah. Ia berbicara pada tikus dan burung, mungkin bukan karena ia aneh, tetapi karena itu adalah satu-satunya dunia yang masih bisa ia kendalikan.. dunia yang tidak menuntutnya untuk menjadi seseorang yang belum siap ia terima.

​Di titik ini, pertanyaannya menjadi lebih rumit, dan sedikit tidak nyaman: Apakah ia benar-benar ditindas, atau ia sedang mencoba bertahan dengan caranya sendiri? Atau, lebih jauh lagi.. apakah ia tanpa sadar sedang membangun narasi di mana ia adalah korban, karena itu terasa lebih mudah daripada mengakui bahwa hidupnya memang tidak lagi seperti dulu?

​Sementara itu, di sisi lain rumah, mungkin ada seorang ibu yang begadang setiap malam, menjahit gaun-gaun indah untuk kedua putrinya. Bukan semata-mata karena kesombongan, tetapi karena ia tahu bahwa satu pernikahan yang “tepat” bisa menjadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka semua dari kehancuran finansial. Bagi mereka, pesta dansa bukan tentang mimpi atau romansa. Itu adalah kesempatan terakhir.

​Dan di malam yang sama, Cinderella akhirnya pergi ke pesta itu.. bukan sebagai seseorang yang telah berdamai dengan kenyataannya, tetapi sebagai seseorang yang akhirnya menemukan jalan keluar darinya. Sepatu kaca yang ia tinggalkan sering kita anggap sebagai simbol cinta yang tak tergantikan. Sesuatu yang hanya cocok untuk satu orang di dunia. Namun mungkin, sepatu itu juga bisa dibaca sebagai sesuatu yang lain: sebuah jalan keluar yang begitu pas, begitu sempurna, hingga ia tidak perlu melihat ke belakang lagi.

​Karena melihat ke belakang berarti melihat rumah yang masih penuh utang. Melihat orang-orang yang masih bertahan di dalamnya. Melihat kenyataan yang belum benar-benar selesai. Dan mungkin, ia memilih untuk tidak melihat.

​Pada akhirnya, cerita ini mungkin tidak benar-benar tentang keajaiban, atau tentang seorang pangeran yang datang menyelamatkan. Mungkin ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah narasi bekerja. Tentang bagaimana seseorang yang terlihat menderita akan lebih mudah dipercaya, lebih mudah disayangi. Tentang bagaimana kesabaran dan ketidakberdayaan bisa terlihat sangat mirip, tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

​Dan mungkin, di balik pintu rumah besar yang mulai kehilangan kemewahannya, ada seorang perempuan yang duduk dalam diam, menatap tumpukan tagihan yang tidak pernah berkurang. Bukan sebagai tokoh jahat, tetapi sebagai seseorang yang terlalu lelah untuk menjelaskan versinya sendiri.

​Sementara di luar sana, dunia telah memilih cerita yang lebih indah untuk dipercaya.

Picture Source : https://64.media.tumblr.com/791224ab5e252a19b411447f8613e2fe/tumblr_pofdf4drfP1s06j9vo1_1280.jpg

Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan