[Sudut Pandang] Rama, Sinta & Rahwana
Selama ini, kita tumbuh dengan satu keyakinan yang hampir tidak pernah kita pertanyakan: bahwa kesetiaan Sinta adalah sesuatu yang suci, dan kepahlawanan Rama adalah sesuatu yang layak diagungkan.
Tapi semakin dewasa, ada satu bagian dari cerita ini yang diam-diam terasa mengganjal. Bagian yang dulu kita terima begitu saja, tapi sekarang justru sulit untuk diabaikan.
Kenapa Sinta tetap memilih seseorang yang tidak benar-benar percaya padanya?
Rama adalah segalanya yang dunia anggap sempurna. Tampan, ksatria, pemimpin yang adil, pewaris takhta yang sah. Ia adalah sosok yang tidak punya alasan untuk diragukan.
Tapi justru di situlah keretakan cerita ini terasa. Karena pada akhirnya, ia adalah lelaki yang meminta istrinya membuktikan kesucian dengan cara berdiri di dalam kobaran api. Bukan karena ia melihat sesuatu dengan matanya sendiri, tapi karena ia mendengar sesuatu dari luar dirinya.
Di titik itu, cinta sudah dikalahkan. Bukan oleh orang lain, tapi oleh ego. Oleh kehormatan. Oleh kebutuhan untuk terlihat benar di mata dunia.
Padahal, bukankah cinta seharusnya menjadi tempat paling aman? Tempat di mana kita tidak perlu menjelaskan siapa diri kita, karena kita sudah sepenuhnya dipercaya. Tempat di mana kita tidak harus membuktikan apa yang sudah jelas, hanya untuk menenangkan keraguan yang seharusnya tidak pernah ada.
Melihat Sinta berdiri di depan api bukan hanya tentang ujian kesucian. Itu seperti menyaksikan sebuah keraguan dan rapuhnya kepercayaan.
Lalu ada Rahwana.
Selama ini kita diajarkan untuk melihatnya sebagai raksasa. Wajah buruk, sepuluh kepala, penuh amarah. Sosok yang mudah sekali dibenci bahkan sebelum kita benar-benar mengenalnya.
Tapi kalau kita berhenti sebentar, ada sesuatu yang jarang kita lihat.
Ia adalah pemuja yang taat. Seorang pejuang yang tidak menyerah. Ia menculik Sinta, ya, dan itu tidak bisa dibenarkan. Tapi setelah itu, ia tidak menyentuhnya. Ia menunggu. Ia merayu. Ia bertahan dalam penolakan yang berkepanjangan. Dan pada akhirnya, ia mati untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar ia miliki.
Lalu muncul pertanyaan yang mungkin terdengar tidak nyaman:
Kenapa perjuangan sebesar itu tidak pernah kita sebut sebagai cinta?
Apakah karena wajahnya tidak indah?
Atau karena sejak awal kita sudah sepakat bahwa ia adalah tokoh jahat, sehingga apa pun yang ia lakukan tidak pernah punya ruang untuk dipahami?
Menurutku, di situlah letak tragedinya.
Rahwana memang berjuang. Sangat keras. Tapi ia berjuang untuk memiliki, bukan untuk mengerti. Ia mencintai Sinta sebagai sesuatu yang ingin ia dapatkan, bukan sebagai seseorang yang bebas memilih.
Dan Rama, dengan cara yang berbeda, melakukan hal yang hampir sama. Ia mencintai Sinta, tapi tidak cukup untuk mempercayainya tanpa syarat.
Satu memaksa.
Satu meragukan.
Dan di antara keduanya, Sinta berdiri.
Bukan sebagai hadiah. Bukan sebagai simbol. Tapi sebagai seseorang yang harus menanggung pilihan yang tidak pernah benar-benar adil untuknya.
Mungkin itulah alasan kenapa ia tetap memilih Rama. Bukan karena Rama lebih mencintainya. Tapi karena Rama adalah pilihan yang “benar”. Pilihan yang sah. Yang diterima. Yang tidak akan dipertanyakan oleh dunia.
Hidup memang berjalan seperti itu.
Kita bertahan pada sesuatu yang menyakiti kita, bukan karena itu yang paling baik untuk hati kita, tapi karena itu yang paling mudah diterima oleh orang lain.
Sementara di sisi lain, ada perasaan-perasaan yang datang dengan cara yang salah, yang tidak pernah diberi kesempatan untuk dilihat lebih dekat.
Kita terlalu sibuk membedakan siapa yang tampan dan siapa yang raksasa, sampai lupa bahwa dalam urusan hati, yang paling kita butuhkan bukanlah seseorang yang menang, atau seseorang yang berjuang paling keras.
Tapi seseorang yang tidak membuat kita merasa harus membuktikan bahwa kita layak untuk dicintai.
Ilustrasi pada tulisan ini dibuat dengan bantuan AI (Google Gemini)

Comments
Post a Comment