[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

 

​Ada cerita-cerita yang sejak kecil kita dengar sebagai dongeng pengantar tidur, namun saat dewasa, kita baru menyadari bahwa di dalamnya tersimpan riwayat tentang ego, luka, dan pilihan-pilihan pahit yang lahir dari kemarahan yang tak pernah diproses. Kisah Roro Jonggrang sering kali hanya diingat sebagai legenda asal-usul Candi Prambanan, sebuah proyek ambisius membangun seribu candi dalam semalam. Namun bagiku, ini bukan sekadar soal arsitektur gaib atau kemustahilan angka seribu. Ini adalah tentang seorang perempuan yang dipaksa menerima "cinta" dari lelaki yang baru saja menghancurkan seluruh dunianya.

​Bayangkan menjadi dirinya.. Roro Jonggrang adalah putri Raja Boko yang harus menyaksikan ayahnya tewas dan kerajaannya lumat di tangan Bandung Bondowoso. Lalu, di atas puing-puing kehancuran itu, si penakluk berdiri dengan angkuh dan menawarkan sebuah kalimat yang dianggapnya sebagai sanjungan: “Aku ingin menikahimu.”

Sering kali dalam cerita rakyat, kegigihan lelaki digambarkan sebagai tindakan heroik. Namun di sini, rasanya seperti ironi yang kejam. Bagaimana mungkin sebuah perasaan bisa disebut cinta jika ia dipaksakan tumbuh di atas tanah yang masih basah oleh duka? Bondowoso mungkin melihat obsesi, tapi Jonggrang hanya melihat kehilangan. Di situlah konflik ini bermula, bukan dari benci, tapi dari trauma yang dipaksa untuk berkompromi.

​Sebagai perempuan yang tidak memiliki kekuatan militer maupun posisi tawar, Jonggrang tidak bisa menolak dengan suara lantang. Ia terjebak dalam posisi yang sering dialami perempuan dalam sejarah. Maka menggunakan kecerdikan adalah satu-satunya senjata untuk bertahan.

Syarat membangun seribu candi dalam satu malam sebenarnya adalah cara halus dan puitis untuk berkata, “Aku tidak mau.” Kadang, ketika seseorang tidak berdaya untuk berkata tidak secara langsung, ia akan menciptakan jarak atau syarat yang mustahil, berharap semesta atau situasi yang akan menggagalkan hal yang tidak ia inginkan itu. 

Namun, Bondowoso bukan lelaki biasa. Dengan bantuan kekuatan gelap, ia hampir menyelesaikan misi itu, dan di titik itulah Jonggrang panik. Ketakutannya nyata; jika lelaki itu berhasil, ia akan terikat selamanya dengan sumber traumanya sendiri.

​Taktik yang dilakukan Jonggrang dengan menyalakan api dan menumbuk padi agar fajar tampak datang lebih awal, sering dicap sebagai kelicikan. Namun, jarang ada yang bertanya bagaimana perasaan Jonggrang saat melihat candi demi candi berdiri?

Dari sudut pandang yang lebih dewasa, Jonggrang terlihat seperti seseorang yang terpojok. Dan orang yang terpojok sering kali melakukan hal-hal yang mungkin tidak elegan, namun sangat manusiawi demi mempertahankan sisa kedaulatan dirinya.

Marahnya Bondowoso ketika menyadari ia hanya membangun 999 candi adalah manifestasi dari ego lelaki yang terluka. Ia merasa dikhianati, merasa pengorbanannya dipermainkan, padahal sejak awal ia tidak pernah meminta izin untuk mencintai.

​Puncak tragedi ini terjadi ketika Bondowoso mengutuk Jonggrang menjadi arca untuk melengkapi candi ke-seribu. Di sini, ceritanya terasa amat pahit. Lelaki yang katanya mencintai justru mengubah perempuan yang ia puja menjadi batu hanya karena egonya tersinggung.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang kontrol dan dominasi. Tentang bagaimana seseorang merasa berhak memiliki orang lain hanya karena ia telah merasa berjuang. Cinta yang tidak diterima seketika berubah menjadi hukuman.. menjadi kutukan.

Roro Jonggrang akhirnya abadi dalam wujud arca Durga di kompleks Prambanan, dikagumi jutaan orang sebagai artefak sejarah, namun mungkin ia menangis di balik kebisuan batunya.

​Kisah ini tetap relevan hingga hari ini karena kita masih sering melihat ego yang dibungkus atas nama perjuangan cinta. Masih ada perempuan yang ruang bicaranya disempitkan hingga tak bisa berkata tidak tanpa merasa terancam.

Legenda ini bertahan ratusan tahun bukan karena unsur magisnya, melainkan karena emosinya sangat nyata. Seperti banyak relasi yang tidak sehat, kisah ini bukan tentang dua orang yang saling menemukan, melainkan tentang dua jiwa yang sama-sama terluka namun meresponsnya dengan cara yang destruktif.

Yang satu memilih manipulasi untuk bertahan, yang satu memilih kutukan untuk membalas, dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah batu yang dingin dan kesepian.

Ilustrasi pada tulisan ini dibuat dengan bantuan AI (Google Gemini)

Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Cinderella