[Review] Love, Rosie

 

Ada film romantis yang membuat kita percaya pada keajaiban jodoh, tapi Love, Rosie justru melakukan hal sebaliknya. Ia duduk di samping kita setelah credit title berakhir, lalu berbisik dengan nada yang dingin: "Bagaimana jika kesempatan kedua itu tidak ada?"

​Film ini bukan tentang menemukan orang yang tepat. Ini tentang menyadari bahwa orang itu sudah ada di sana sejak awal, namun kita menyangkal karena terlalu takut untuk jujur.

​Rosie Dunne dan Alex Stewart adalah kita yang tumbuh bersama dalam kenyamanan sebuah persahabatan, hingga kita lupa bahwa kenyamanan itu sebenarnya adalah cinta yang sedang menyamar. Mereka tahu segalanya tentang satu sama lain, kecuali satu hal: keberanian untuk mengakui perasaan sebelum hidup menarik mereka ke arah yang berlawanan.

​Hidup Rosie berubah bukan karena sebuah tragedi besar, melainkan karena satu malam yang salah dan satu rahasia yang ia simpan sendiri. Saat Alex berangkat ke Boston untuk mengejar mimpinya, Rosie tertinggal di Dublin dengan kehamilan yang tidak direncanakan. Di sinilah letak kepedihan film ini: Rosie memilih menyembunyikannya karena ia tidak ingin menjadi beban bagi masa depan Alex.

​Ia memilih untuk "berkorban", namun pengorbanan itu justru menjadi tembok pertama yang memisahkan mereka selama belasan tahun. Rosie langsung melompat ke fase dewasa sebagai ibu tunggal, sementara Alex membangun hidup baru, karir baru, dan akhirnya, pernikahan dengan orang lain. Mereka tetap berkomunikasi, saling berkirim kabar, namun selalu ada jarak yang tak terucap. Jarak yang tercipta bukan karena ruang geografis, melainkan karena tumpukan kata "seandainya" yang tidak pernah berani dikeluarkan.

​Sepanjang film, kita dipaksa menonton rentetan momen "nyaris" yang jujur saja menyebalkan. Nyaris jujur, nyaris bersama, nyaris memilih satu sama lain. Tragisnya, kegagalan mereka bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena hal-hal sepele yang dibiarkan lewat begitu saja. Satu undangan yang terselip, satu email yang tak terbaca, atau satu momen "Ah, nanti saja" yang akhirnya menjadi penundaan selama bertahun-tahun.

​Alex adalah cermin dari kebiasaan kita yang sering menunda kejujuran karena percaya bahwa waktu akan selalu ada. Ia terlalu yakin bahwa kesempatan bisa dicadangkan. Padahal, hidup tidak bekerja seperti itu. Cinta yang tidak diucapkan tidak akan menetap dengan sabar; ia akan berubah bentuk menjadi penyesalan yang dingin.

​Begitu juga dengan Rosie. Ia menjalani hidup yang tidak pernah ia rencanakan, menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai, dan bertahan hanya karena ia merasa harus. Ini bukan cerita tentang kegagalan moral, melainkan tentang bagaimana hidup sering kali tidak memberi kita pilihan ideal saat kita terlalu lambat untuk mengambil keputusan.

Love, Rosie pada akhirnya memberikan kita happy ending, tapi kebahagiaan itu terasa sangat mahal. Saat mereka akhirnya bersatu setelah belasan tahun, ada rasa lega yang dibarengi dengan sesak di dada. Kita menyadari bahwa meski mereka akhirnya bersama, tahun-tahun yang hilang, masa muda yang seharusnya dihabiskan berdua, tawa-tawa kecil yang terlewatkan.. tidak akan pernah bisa kembali.

​Film ini tidak sedang menjanjikan bahwa cinta sejati pasti akan bersatu. Ia justru memperingatkan kita dengan sangat jujur: bahwa kadang dua orang bisa saling mencintai setengah mati, namun tetap dipisahkan oleh waktu yang terlalu lama.

​Setelah film ini selesai, yang tertinggal di benakku bukanlah harapan muluk-muluk tentang jodoh. Melainkan sebuah desakan untuk tidak menunda apa pun lagi. Tidak menunda perasaan, tidak menunda kejujuran, dan tidak menunda keberanian. Karena Love, Rosie mengingatkan kita bahwa kesempatan kedua mungkin memang ada, tapi ia tidak pernah datang secara cuma-cuma.

Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella