[Review] To All The Boys I've Loved Before
To All the Boys I've Loved Before adalah kisah tentang Lara Jean Covey, seorang gadis SMA yang lebih nyaman hidup di dunia imajinasinya daripada menghadapi perasaan di dunia nyata. Ia memiliki kebiasaan unik: setiap kali ia jatuh cinta, ia menuliskan perasaannya dalam sebuah surat. Surat itu bukan untuk dikirim, melainkan sebagai cara untuk “mengakhiri” perasaan tersebut secara diam-diam. Setelah selesai, surat-surat itu ia simpan rapi dalam sebuah kotak di kamarnya.
Masalah dimulai ketika suatu hari, tanpa sepengetahuannya, semua surat itu terkirim ke orang-orang yang pernah ia sukai. Salah satunya adalah Josh, mantan pacar kakaknya yang masih sering ada di sekitarnya, membuat situasi menjadi sangat canggung. Di tengah kepanikan itu, Lara Jean juga harus berhadapan dengan Peter Kavinsky, salah satu penerima surat sekaligus cowok populer di sekolah.
Untuk menghindari kesalahpahaman, terutama dengan Josh, Lara Jean dan Peter Kavinsky membuat kesepakatan untuk berpura-pura berpacaran. Bagi Lara Jean, ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa ia sudah tidak memiliki perasaan pada Josh. Bagi Peter, ini adalah cara untuk membuat mantan pacarnya, Gen, merasa cemburu.
Hubungan pura-pura ini awalnya berjalan sesuai rencana, lengkap dengan aturan-aturan sederhana agar tidak melibatkan perasaan. Mereka mulai tampil bersama di sekolah, menghabiskan waktu bersama, dan menciptakan citra pasangan yang meyakinkan. Namun, seiring waktu, interaksi yang awalnya dibuat-buat perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata. Kebiasaan kecil, percakapan ringan, dan momen kebersamaan membuat batas antara pura-pura dan sungguhan mulai kabur.
Lara Jean mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa lagi ia kendalikan, sementara Peter juga menunjukkan sisi dirinya yang lebih tulus dan hangat dari yang selama ini terlihat. Namun, seperti banyak hubungan yang tumbuh dari situasi tidak jujur, konflik mulai muncul. Kesalahpahaman terjadi, terutama ketika Lara Jean merasa bahwa ia hanya menjadi bagian dari permainan Peter untuk membuat Gen cemburu.
Di sisi lain, tekanan dari lingkungan sekolah, hubungan dengan keluarga, dan rasa tidak percaya diri membuat Lara Jean kembali ingin menarik diri. Ia merasa bahwa membuka hati hanya akan membuatnya terluka. Hubungan mereka pun retak, dan Lara Jean memilih menjauh.
Namun, seiring berjalannya waktu, kebenaran mulai terungkap. Peter menyadari bahwa perasaannya bukan lagi sekadar bagian dari kesepakatan awal. Ia benar-benar peduli pada Lara Jean. Dengan cara yang sederhana namun tulus, ia berusaha memperbaiki semuanya.
Pada akhirnya, Peter datang menemui Lara Jean dan dengan jujur mengungkapkan perasaannya. Ia tidak lagi ingin berpura-pura. Ia memilih Lara Jean, bukan karena situasi, bukan karena rencana, tapi karena perasaan yang nyata. Lara Jean pun akhirnya berani membuka hatinya, menerima bahwa cinta memang datang dengan risiko, tapi juga dengan kemungkinan bahagia.
***
Ada film-film yang ditonton lalu selesai. Dan ada juga film yang hadir seperti pelukan menenangkan di hari yang melelahkan, tempat di mana perasaan kita boleh ada tanpa harus dibela atau dijelaskan panjang-panjang. To All the Boys I've Loved Before adalah salah satunya. Film ini tidak datang dengan ledakan emosi atau konflik yang dipaksakan. Ia justru berjalan pelan, mengajak kita masuk ke ruang yang hangat, membiarkan hati yang lelah untuk perlahan mengendap.
Lara Jean Covey adalah gambaran kita yang mencintai dengan sangat hati-hati, yang memilih untuk menulis surat cinta bukan untuk dikirim, melainkan untuk disimpan rapat-rapat.
Bukan karena perasaannya kecil, tapi justru karena terlalu besar dan menakutkan. Menyimpannya terasa jauh lebih aman daripada harus berhadapan dengan kemungkinan ditolak atau kehilangan. Surat-surat itu adalah dunia pribadinya, tempat ia bisa jujur sepenuhnya tanpa takut disakiti oleh kenyataan. Lara Jean jatuh cinta pada ide tentang cinta, tapi ia terlalu takut pada cinta itu sendiri.
Lalu Peter Kavinsky masuk, bukan sebagai pangeran sempurna yang datang menyelamatkan segalanya, melainkan dengan cara yang sangat sederhana. Ia hadir dengan ketenangan yang menenangkan. Ia mendengarkan. Ia konsisten. Ia ada.
Peter adalah wujud dari green flag sebelum istilah itu ramai dipakai. Ia tidak bermain tarik-ulur perasaan, dan ia tidak pernah membuat Lara Jean merasa harus berubah sedikit pun agar pantas dicintai. Dalam hubungan yang awalnya pura-pura itu, justru tumbuh kejujuran yang terasa sangat nyata. Peter memberi Lara Jean sesuatu yang selama ini ia hindari: keberanian untuk membiarkan perasaannya dibaca dunia luar.
Film ini terasa sangat manusiawi dalam menggambarkan rasa takut yang paling sering kita rasakan: takut berharap, takut percaya, dan takut terluka lagi.
Lara Jean tidak tiba-tiba menjadi berani atau percaya diri. Ia tetap canggung, tetap salah paham, tetap ingin mundur ketika perasaan mulai terasa terlalu dalam. Tapi pertumbuhannya terasa jujur. Ia belajar bahwa menutup hati sepenuhnya mungkin terasa aman, tapi juga membuat hidup terasa setengah. Ia belajar bahwa ketakutan itu nyata, tapi ia tidak harus menghentikan kita untuk melangkah.
Pada akhirnya, yang membuat film ini bertahan lama di ingatan bukanlah kisah cintanya, melainkan suasana damai yang ditinggalkannya. Film ini tidak menjanjikan cinta yang sempurna atau dramatis. Ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih lembut, kemungkinan bahwa cinta bisa tenang, bahwa dicintai tidak selalu harus melelahkan, dan bahwa perasaan yang selama ini kamu simpan diam-diam ternyata layak untuk diberi ruang.
To All the Boys I've Loved Before tidak menggurui atau memaksa kita untuk merasa lebih baik. Ia cukup hadir di hari yang berat, membuat segalanya terasa sedikit lebih ringan, dan diam-diam menemani kita untuk berani memberi ruang pada rasa takut, lalu berhenti bersembunyi.

Comments
Post a Comment