Posts

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

Image
Di sebuah gang sempit yang selalu berdebu setiap sore, dua gadis tumbuh dalam ritme yang sama: bangun sebelum fajar, berangkat sekolah, lalu bekerja hingga malam menelan kampung. Orang-orang memanggil mereka Bawang Putih dan Bawang Merah, dua kutub yang dipaksa hidup bersama setelah pernikahan orang tua mereka delapan tahun lalu. Bawang Putih berusia tujuh tahun ketika ibunya meninggal. Sejak saat itu, ia belajar bahwa senyum dan kebaikan adalah satu-satunya cara agar dunia tidak meninggalkannya lagi. Ia membersihkan rumah hingga mengilap, mencuci pakaian, mengepel lantai tanpa pernah mengeluh. Semua orang di sekolah menyukainya. Guru memujinya, teman-teman memintanya menjadi teladan. Ia menjadi “cahaya lembut” yang tak pernah redup.. bukan karena ia sempurna, tapi karena ia takut gelapnya hati akan membuat orang pergi. Bawang Merah, yang tiga hari lebih tua, sudah terbiasa menjadi pelindung sejak ayah kandungnya pergi meninggalkan ibunya. Ketika ibunya menikah lagi, ia langsung meliha...

Tentang Payung, Hujan dan Iman

Image
  ​Kita seringkali salah sangka. Kita kira memiliki iman itu seperti punya mantra atau kekuatan ajaib yang akan membuat hidup berjalan lebih mudah dari orang lain, atau semacam tombol darurat untuk menghentikan mendung. Kita berdoa, lalu diam-diam berharap semuanya cepat selesai, masalah hilang, hujan berhenti, dan pelangi muncul tanpa jeda agar hidup kembali nyaman. ​Tapi kenyataannya, hidup tidak bekerja seperti itu. ​Hujan tetap turun. Kadang justru lebih lama dan lebih deras dari yang sanggup kita bayangkan. Doa tidak selalu langsung dijawab dengan cara yang kita mau. Dan di titik itu, jujur saja, yang seringkali terasa bukanlah kedamaian, melainkan kelelahan yang amat sangat. Ujian itu tetap ada, nyata, dan kadang begitu dekat sampai membuat kita gemetar. ​Coba kita lihat payung yang kita pegang saat hujan deras itu. Sehebat apa pun payung itu, ia tidak pernah benar-benar melindungi kita sepenuhnya. Tetap ada cipratan air yang masuk, tetap ada dingin yang meresap, dan tetap...

[Review] She's All That

Image
Ada masa dalam hidup di mana aku tidak pernah mempertanyakan logika sebuah cerita. Aku hanya duduk, menonton, lalu percaya sepenuhnya. She's All That hadir tepat di masa itu. Saat aku masih dua belas tahun, film ini bukan sekadar tontonan remaja. Ia terasa seperti sebuah janji. Sesuatu yang benar-benar ingin aku yakini akan terjadi suatu hari nanti. Aku menontonnya berulang kali, lebih banyak dari jumlah jemari yang aku miliki. Dan setiap kali Laney Boggs muncul di layar dengan kacamata tebal dan kuas lukisnya, rasanya seperti sedang melihat diriku sendiri. Seorang gadis yang tidak benar-benar terlihat, yang hidup nyaman di dunianya sendiri, tapi diam-diam menyimpan harapan yang sama, bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang benar-benar melihatku. Cerita ini dimulai dengan cara yang sederhana, bahkan cenderung dangkal. Zack Siler, si raja sekolah, kehilangan pacarnya sekaligus harga dirinya. Untuk membuktikan bahwa ia masih berpengaruh, ia membuat taruhan bahwa ia bisa mengub...

[Sudut Pandang] Cinderella

Image
  Kita semua tumbuh dengan satu versi cerita Cinderella: seorang gadis cantik yang ditindas oleh ibu dan saudara tirinya, dipaksa menjadi pelayan di rumahnya sendiri, lalu pada akhirnya diselamatkan oleh seorang pangeran karena sepasang sepatu kaca. Kita diajarkan untuk mencintainya tanpa banyak bertanya. Menempatkannya di posisi paling tinggi sebagai sosok yang sabar, tulus, dan hampir terlalu murni untuk dunia yang ia tinggali. Dan tanpa sadar, kita juga belajar untuk membenci sosok ibu tiri tanpa pernah benar-benar mencoba memahami. ​Tapi bagaimana jika selama ini kita hanya mendengar cerita dari satu sisi saja? ​Bagaimana jika “penindasan” yang selama ini kita percaya, bukan sepenuhnya tentang kejahatan orang lain, melainkan tentang ketidakmampuan seseorang menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berubah? ​Bayangkan sebuah kemungkinan yang sedikit lebih pahit. ​Bagaimana jika ayah Cinderella, sosok bangsawan yang tampak sempurna itu.. meninggal dengan meninggalkan sesuatu y...

[Review] My Liberation Notes

Image
  Menonton My Liberation Notes rasanya seperti duduk diam di dalam kereta komuter pada sore yang panjang dan gerah. Hidup tidak sedang dalam tragedi besar, tapi ia juga tidak sedang baik-baik saja. Ia hanya terasa... monoton. Melelahkan. Dan penuh dengan kelelahan yang bahkan kita sendiri sudah lupa kapan terakhir kali memberinya nama. ​Drama ini bercerita tentang tiga bersaudara keluarga Yeom yang tinggal di pinggiran Gyeonggi. Setiap hari, hidup mereka habis untuk menempuh perjalanan panjang menuju Seoul demi bekerja, lalu pulang ke rumah yang sama, makan di meja yang sama, namun masing-masing memikul kesepian yang berbeda. Tidak ada ledakan emosi yang dramatis di sini; yang ada hanyalah akumulasi hari-hari yang terasa berat tanpa tahu harus mengeluh kepada siapa. ​ ​Yeom Mi-jeong, si bungsu, adalah kita yang sering merasa terasing bahkan di tengah keramaian. Ia tidak miskin, ia tidak sakit, tapi ia merasa "kosong". Ia menjalani hidup seolah-olah ia hanya tamu di tubuhn...

[Review] Love, Rosie

Image
  Ada film romantis yang membuat kita percaya pada keajaiban jodoh, tapi Love, Rosie justru melakukan hal sebaliknya. Ia duduk di samping kita setelah credit title berakhir, lalu berbisik dengan nada yang dingin: "Bagaimana jika kesempatan kedua itu tidak ada?" ​Film ini bukan tentang menemukan orang yang tepat. Ini tentang menyadari bahwa orang itu sudah ada di sana sejak awal, namun kita menyangkal karena terlalu takut untuk jujur. ​Rosie Dunne dan Alex Stewart adalah kita yang tumbuh bersama dalam kenyamanan sebuah persahabatan, hingga kita lupa bahwa kenyamanan itu sebenarnya adalah cinta yang sedang menyamar. Mereka tahu segalanya tentang satu sama lain, kecuali satu hal: keberanian untuk mengakui perasaan sebelum hidup menarik mereka ke arah yang berlawanan. ​ ​Hidup Rosie berubah bukan karena sebuah tragedi besar, melainkan karena satu malam yang salah dan satu rahasia yang ia simpan sendiri. Saat Alex berangkat ke Boston untuk mengejar mimpinya, Rosie tertinggal...

[Review] To All The Boys I've Loved Before

Image
To All the Boys I've Loved Before adalah kisah tentang Lara Jean Covey, seorang gadis SMA yang lebih nyaman hidup di dunia imajinasinya daripada menghadapi perasaan di dunia nyata. Ia memiliki kebiasaan unik: setiap kali ia jatuh cinta, ia menuliskan perasaannya dalam sebuah surat. Surat itu bukan untuk dikirim, melainkan sebagai cara untuk “mengakhiri” perasaan tersebut secara diam-diam. Setelah selesai, surat-surat itu ia simpan rapi dalam sebuah kotak di kamarnya. Masalah dimulai ketika suatu hari, tanpa sepengetahuannya, semua surat itu terkirim ke orang-orang yang pernah ia sukai. Salah satunya adalah Josh, mantan pacar kakaknya yang masih sering ada di sekitarnya, membuat situasi menjadi sangat canggung. Di tengah kepanikan itu, Lara Jean juga harus berhadapan dengan Peter Kavinsky, salah satu penerima surat sekaligus cowok populer di sekolah. Untuk menghindari kesalahpahaman, terutama dengan Josh, Lara Jean dan Peter Kavinsky membuat kesepakatan untuk berpura-pura berpacaran...