Would I date myself?
Kadang aku membayangkan sebuah skenario sederhana. Aku duduk di sebuah meja, berhadap-hadapan dengan seseorang yang cara berpikirnya, cara diamnya, hingga caranya memandang hidup, persis seperti aku.
Aku bisa membayangkan bagaimana kencan itu akan berjalan.
Kami akan datang tepat waktu. Tidak tergesa, tidak berlebihan. Obrolannya akan tertata, sopan, dan penuh dengan jeda yang dipikirkan masak-masak. Bukan karena kami kehabisan bahan bicara, tapi karena masing-masing dari kami sedang menimbang: apakah kalimat ini perlu diucapkan atau tidak?
Aku tahu, aku adalah tipe yang akan hadir sepenuhnya. Aku akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mengingat detail-detail kecil yang sering dianggap remeh orang lain. Aku adalah tipe yang ingin memastikan segalanya terasa nyaman, aman, dan "pas".
Tapi, aku juga tahu sisi lainnya.
Aku adalah tipe yang terlalu rajin berpikir. Terlalu cepat membaca tanda, dan terlalu serius menafsirkan sesuatu yang mungkin sebenarnya sangat sederhana.
Sekarang, bayangkan dua orang seperti itu duduk berhadapan.
Dua orang yang sama-sama ingin segalanya berjalan baik, tapi justru jadi terlalu hati-hati untuk benar-benar bisa menikmati momennya. Kami akan sama-sama menunggu saat yang tepat, sama-sama ingin memastikan suasana benar-benar aman sebelum berani melangkah.
Mungkin tidak akan ada drama besar. Tidak akan ada ledakan emosi yang melelahkan. Semuanya akan terlihat rapi. Semuanya akan terasa sangat terkendali.
Dan mungkin, justru di situlah masalahnya.
Aku tidak merasa diriku sulit untuk dicintai. Aku juga tidak merasa diriku kurang menyenangkan untuk diajak bicara. Tapi setelah menatap "cermin" di seberang meja itu, aku sadar satu hal: Aku tidak butuh cermin sebagai pasangan.
Aku butuh sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang tidak selalu berhenti dan berputar-putar di dalam kepala. Aku butuh seseorang yang kadang berani melangkah tanpa perlu memastikan segalanya aman terlebih dahulu. Seseorang yang bisa menarikku keluar dari labirin pikiranku sendiri.
Kencan dengan diriku sendiri mungkin akan berjalan dengan sangat baik, sangat sopan, dan sangat rapi. Tapi, apakah kencan itu akan terasa... hidup?
Rasanya akan seperti membaca buku yang sudah aku tahu akhirnya. Tenang, tapi datar. Nyaman, tapi tanpa kejutan.
Jadi, kalau ada yang bertanya: Would I date myself?
Setelah melihat pantulan diriku di meja itu, dengan segala ketertataan dan keheningan yang aku bawa... jawabanku mungkin tidak.
Aku sudah cukup dengan isi kepalaku sendiri. Untuk sisa hidupku, aku ingin seseorang yang membawa warna yang belum pernah aku lukis sebelumnya.
Ilustrasi pada tulisan ini dibuat dengan bantuan AI (Google Gemini)

Comments
Post a Comment