Bangku Kayu di Pinggir Jalan: Antara Merasa Cukup dan Menyerah
Aku pernah berada di sebuah fase hidup di mana aku merasa takut untuk merasa cukup.
Aneh, ya? Di saat orang lain mengejar ketenangan, aku justru mencurigainya. Ada ketakutan yang merayap bahwa rasa cukup itu diam-diam akan berubah menjadi puas diri. Aku takut jika apresiasi kecil justru membuat langkahku terhenti, atau lebih buruk lagi: aku takut merasa sudah hebat, padahal sebenarnya aku biasa-biasa saja.
Lucu sekali melihat bagaimana kita bisa secemas itu hanya karena sebuah pujian.
Setiap kali ada yang berujar, “Kamu sudah bagus,” kepalaku langsung riuh sendiri. Bukannya berterima kasih, aku malah bertanya-tanya: Bagus dibanding siapa? Bagusnya cuma segini doang? Rasanya melelahkan, padahal aku sadar, tidak ada satu orang pun yang sedang mengajakku berlomba.
Jujur, aku sering mencampuradukkan dua hal yang sebenarnya sangat berbeda: rasa cukup dan rasa menyerah. Yang satu memberikan ketenangan, sementara yang satunya lagi adalah bentuk keputusasaan.
Kita seringkali menjadi musuh paling kejam bagi diri sendiri, menuntut raga yang lelah ini untuk terus berlari tanpa henti. Kita seolah dipaksa dalam perlombaan yang garis finish-nya terus digeser setiap kali kita hampir sampai. Padahal, nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak pencapaian yang bisa kita pamerkan di layar ponsel.
Sampai suatu hari aku menyadari satu hal sederhana: Rasa cukup itu bukan garis akhir.
Ia hanyalah sebuah bangku kayu di pinggir jalan. Tempat untuk duduk sebentar, membasahi tenggorokan, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Merasa cukup hari ini tidak akan membatalkan mimpimu besok. Menghargai dirimu sendiri yang sudah berjuang sejauh ini tidak otomatis membuatmu berhenti bertumbuh.
Justru sebaliknya. Mereka yang terus-menerus merasa kurang biasanya akan tumbang karena kelelahan, bahkan sebelum mereka sampai di mana-mana.
Di luar sana mungkin ada di antara kalian yang sedang merasakan kegelisahan yang sama. Kamu yang takut untuk berhenti sejenak karena merasa tertinggal, atau kamu yang merasa bersalah saat ingin memuji diri sendiri.
Perasaan cemas dan rasa takut tertinggal itu manusiawi. Tapi ingatlah, kamu berharga karena kamu adalah kamu. Kamu boleh merasa bangga tanpa harus berhenti belajar. Kamu boleh merasa senang tanpa harus merasa "selesai".
Hari ini, cobalah untuk duduk sejenak di bangku kayumu. Mungkin "cukup" itu ada pada kesehatan yang masih terjaga, pada teman yang masih bisa diajak bercanda, atau pada secangkir americano dingin yang menemanimu sore ini.
Tarik napas. Lihatlah sejauh mana kamu sudah melangkah. Katakan pada dirimu sendiri: "Aku sudah cukup untuk hari ini."
Dan jika besok keraguan itu datang lagi? Tidak apa-apa. Kamu sudah tahu jalannya. Kamu pernah sampai di titik ini sebelumnya, dan kamu akan baik-baik saja.
Ilustrasi pada tulisan ini dibuat dengan bantuan AI (Google Gemini)

Comments
Post a Comment