Helper's High : Egoisme yang Indah


​Pagi itu sebenarnya tidak ada yang istimewa.

​Kota berjalan seperti biasa. Lampu merah berganti hijau, macet di beberapa sudut, dan langkah kaki yang saling mendahului. Di tanganku, tumbler berisi es americano masih mengeluarkan bunyi gemericik pelan, seolah ikut berjalan bersamaku.

​Aku keluar dari pintu setelah check clock, lalu menahan pintu itu sedikit lebih lama untuk seseorang di belakangku.

​Ia menoleh dan tersenyum kecil. Bukan senyum yang lebar, bukan pula ucapan terima kasih yang dramatis. Hanya satu lengkung tipis di sudut bibir. Anehnya, aku ikut tersenyum. Ada rasa hangat yang tiba-tiba hadir tanpa alasan yang perlu kujelaskan.

​Katanya, ini bukan kebetulan. Ada fenomena bernama helper’s high. Saat kita membantu orang lain, otak menyuntikkan endorfin dan oksitosin ke dalam sistem tubuh kita. Rasanya seperti sedang berada di kafe langganan, lalu tanpa diduga mendapat kudapan manis gratis dari barista, sesuatu yang enak dan persis sesuai selera kita.

​Evolusi rupanya tidak seromantis itu. Ia sangat praktis. Ia membuat kita "kecanduan" berbuat baik agar manusia tidak saling membenci sampai punah. Dengan kata lain, berbuat baik sebenarnya adalah tindakan yang egois.

​Tapi, bagiku ini adalah egoisme yang indah.

​Sore harinya, aku menambahkan sedikit tip lebih untuk pengemudi ojol. Jumlahnya tidak besar, tidak akan sampai mengubah hidup siapa pun. Tapi balasannya datang dengan cepat: “Terima kasih ya, Kak. Sehat selalu.”

​Kalimatnya pendek, tapi dampaknya panjang. Rasa hangat itu datang lagi, menyelinap seperti selimut tipis di dada. Tidak mengganggu, tidak berisik. Ia hanya hadir.

​Aku jadi berpikir, mungkin inilah bentuk self-care paling murah yang pernah diciptakan semesta. Tidak perlu aplikasi khusus, tidak perlu jadwal tetap, bahkan tidak perlu afirmasi yang ditempel di dinding kamar. Cukup satu tindakan kecil yang tidak diminta. Satu kebaikan yang tidak perlu diposting.

​Menolong orang lain ternyata bukan melulu tentang ambisi menjadi orang baik. Kadang, ini hanya tentang keinginan untuk merasa sedikit lebih utuh hari ini.

​Dan jika setelah melakukan kebaikan hatimu terasa lebih ringan, itu bukan karena kamu merasa paling suci. Itu hanya karena otakmu sedang tersenyum, sambil berbisik pelan, “Ulangi lagi besok, ya.”

Ilustrasi pada tulisan ini dibuat dengan bantuan AI (Google Gemini)

Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella