Hangeul & Garis Waktu



​Aku duduk diam hari ini, berhadap-hadapan dengan sebuah buku kecil berisi huruf-huruf asing: Hangeul. Bentuknya sederhana, bahkan terlihat cantik. Lingkaran, garis tegak, dan kotak.

​Katanya, ini adalah basic. Katanya, ini fondasi. Katanya, kalau aku sudah hafal semua hurufnya, segalanya akan terasa jauh lebih mudah.

​Tapi, nyatanya tidak.

​Aku hafal semua hurufnya—satu per satu. Aku tahu bagaimana bunyinya, aku tahu siapa pasangannya. Namun, saat diminta untuk merangkainya menjadi sebuah kata, lidahku tersandung. Mataku melambat. Aturan batchim (konsonan akhir) yang sudah kupelajari mati-matian tetap saja sering salah tempat. Rasanya sepele, tapi aku tetap salah.

​Aku berhenti sejenak. Bukan karena aku ingin menyerah, tapi karena aku tiba-tiba tersadar akan sesuatu yang menampar egoku sendiri.

​Selama ini, di tempat kerja, aku seringkali tanpa sadar merasa kesal pada kesalahan-kesalahan kecil yang dibuat timku. Kesalahan sepele yang dalam kepalaku langsung diberi label "basic".

"Masa hal basic seperti ini saja tidak bisa?"

"Masa yang beginian saja masih salah?"

​Di tengah kesulitan mengeja Hangeul ini, aku menyadari satu hal penting yang selama ini kulupakan: Aku lupa menghitung waktu.

​Aku lupa bahwa hal-hal yang bagiku terasa basic hari ini adalah hasil dari lebih dari sepuluh tahun aku belajar, jatuh, salah, ditegur, dan mengulang tanpa henti. Aku lupa bahwa aku pun pernah berada di titik yang sama—pernah bingung, pernah lambat, dan pernah melakukan kesalahan berkali-kali pada hal-hal yang sekarang kulakukan tanpa berpikir.

​Belajar Hangeul mengembalikanku ke titik itu. Ke posisi seorang murid. Ke posisi orang yang sudah berusaha keras, sudah belajar, sudah menghafal, tapi tetap belum luwes karena belum terbiasa.

​Dan di situlah aku mengerti.

​Kesalahan bukan selalu merupakan tanda kurangnya usaha. Sering kali, itu hanyalah tanda belum cukupnya waktu untuk membiasakan diri. Mereka yang masih salah di hal-hal dasar bukan berarti tidak mau belajar. Bisa jadi mereka sedang berada di fase yang sama denganku saat membaca huruf-huruf Hangeul ini: masih terbata, masih salah letak, dan masih membutuhkan ruang untuk berlatih tanpa dimarahi.

​Sebagai seorang leader, mungkin tugasku bukan hanya memastikan hasil akhir. Tapi juga untuk mengingat bahwa setiap orang punya garis waktu belajar yang berbeda-beda.

​Hari itu, Hangeul tidak hanya mengajarkanku cara membaca bahasa baru. Ia mengajarkanku satu hal yang jauh lebih berharga: cara melihat manusia dengan lebih sabar.

Ternyata, untuk bisa memeluk orang lain dengan penuh pengertian, kita harus terlebih dahulu berani memeluk proses kita sendiri yang masih terbata.



Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella