Bentuk yang Tidak Jadi
Ada masa ketika aku percaya bahwa hidup akan berjalan sesuai rencana. Bukan sebuah ambisi besar yang muluk, hanya sebuah urutan yang wajar: bekerja, bertumbuh, lalu membangun hidup bersama seseorang.
Aku tidak tergesa. Aku menyiapkan diriku pelan-pelan.. belajar menjadi dewasa, belajar sabar, belajar bertahan. Dalam kepalaku, logikanya sederhana: jika aku cukup sungguh-sungguh merawat niat, maka hidup akan menemuiku di titik yang sama.
Ternyata, hidup tidak selalu bekerja dengan logika yang sama.
Beberapa hal di hidupku tidak berakhir dengan ledakan kegagalan. Ia hanya... tidak jadi. Dan jujur saja, "tidak jadi" jauh lebih sulit diterima daripada sebuah keruntuhan. Karena saat sesuatu runtuh, kita tahu apa yang hancur. Tapi saat sesuatu tidak jadi, tidak ada yang bisa disalahkan. Tidak ada yang benar-benar patah.
Hanya ada satu masa depan yang pelan-pelan ditarik kembali oleh semesta, padahal namanya sudah sempat kusebut berkali-kali dalam doa dan harapan.
Aku belajar bahwa tidak semua rencana yang bahkan telah dirawat dengan baik akan berujung pada bentuk yang kita bayangkan. Ada hal-hal yang berhenti di tengah jalan bukan karena kita kurang cinta, bukan pula karena kurang usaha. Mereka berhenti hanya karena hidup memilih arah lain.
Awalnya, aku haus akan penjelasan. Aku ingin tahu di mana aku keliru. Apa yang seharusnya kuperbaiki? Bagian mana yang seharusnya kupertahankan? Aku ingin sebuah "sebab" untuk "akibat" yang menggantung ini.
Sampai akhirnya, aku lelah.
Di titik lelah itulah aku mulai mengerti bahwa kedewasaan tidak selalu datang bersama kepastian. Kadang, ia datang bersama keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua yang kita siapkan dengan hati memang ditakdirkan untuk diwujudkan. Ada benih yang memang hanya ditugaskan untuk mengajari kita cara menanam, bukan untuk memberikan kita buah.
Melepaskan Tanpa Membenci
Hari ini, aku tidak lagi memaksa hidup untuk menjawab. Aku membiarkan "bentuk-bentuk yang tidak jadi" itu tetap ada di pojok perjalananku. Tidak perlu kusangkal, tidak perlu kurapikan agar terlihat indah. Mereka adalah sketsa yang berhenti di tengah jalan, dan itu tidak apa-apa.
Aku menyadari bahwa tidak semua yang batal adalah sebuah kehilangan. Sebagian dari mereka hadir hanya untuk mengajarkan kita cara melepaskan tanpa harus membenci diri sendiri.
Ternyata, kita tetap bisa utuh meskipun rencana kita tidak.
catatan : Tulisan ini berangkat dari pengalaman personal yang pernah aku tuliskan dan publikasikan pada tahun 2018, dalam bentuk yang sangat berbeda. Versi sebelumnya adalah catatan proses pada masanya. Versi ini adalah hasil jarak, waktu, dan sudut pandang yang berbeda.
Ilustrasi pada tulisan ini dibuat dengan bantuan AI (Google Gemini)

Comments
Post a Comment