[Review] 2521, Akhir yang Indah

​Aku baru saja menonton ulang Twenty-Five Twenty-One, dan ya, aku masih menyukainya. Sangat.

​Ada series yang kita tonton lalu selesai begitu saja. Ada juga yang kita tonton ulang dan rasanya tetap nyaman. 2521 adalah tipe yang kedua.

Mengapa Aku Menyukainya?

Aku suka persahabatannya. Yang ramai, cerewet, dan penuh tawa kecil yang terasa remeh tapi justru penting. Mereka tidak sempurna, tidak selalu saling mengerti, tapi selalu ada. Rasanya hangat melihat bagaimana mereka tumbuh bersama—sambil tersandung, sambil tertawa, dan tetap berjalan.

Aku suka perkembangan karakternya. Tidak terburu-buru, tidak dibuat dramatis berlebihan. Mereka belajar dewasa dengan cara yang manusiawi. Kadang salah, kadang ragu, tapi tidak pernah berhenti mencoba.

Tentu saja, aku suka romansa-nya. Bukan karena kisah cinta yang bombastis, tapi karena rasanya ringan dan tulus. Cinta yang datang di usia muda, ketika kita belum tahu apa-apa tentang hidup, tapi berani percaya pada banyak hal. Bukankah itu indah?

Dan yang terakhir, drama ini seperti Mesin Waktu ke Tahun 1998. Bagi banyak orang (termasuk aku), 2521 adalah sebuah mesin waktu. Bayangkan sebuah perjalanan kembali ke tahun 1998; era di mana internet masih berbunyi krrr-tt-krrr, informasi dicari lewat koran fisik, dan rindu hanya bisa dititipkan lewat kotak telepon umum atau pesan di pager.

​Cerita ini bermula di masa kini, di tengah suasana pandemi. Kita bertemu dengan Kim Min-chae, putri dari sang legenda anggar nasional, Na Hee-do. Min-chae sedang kehilangan arah; ia menyerah pada balet hanya karena minder melihat kehebatan saingannya. Dalam kegalauannya, ia menemukan buku harian tua milik ibunya.

​Dari lembaran diary itulah, kita terseret ke tahun 1998, saat krisis moneter melanda dunia. Kita melihat perjuangan Na Hee-do muda yang energinya meledak-ledak. Meski klub anggarnya dibubarkan, ia menolak menyerah dan berjuang pindah sekolah demi berlatih bersama idolanya, Ko Yu-rim.

​Di sisi lain, ada Baek Yi-jin. Dunianya runtuh saat perusahaan ayahnya bangkrut. Dari anak orang kaya, ia harus berjuang menjadi loper koran hingga penjaga kios komik demi melunasi utang keluarga. Pertemuan mereka adalah momen di mana dua orang yang "patah" saling menguatkan untuk bangkit kembali.

​Drama ini adalah paket lengkap tentang kehidupan. Ada beberapa pesan yang menurutku sangat "ngena":

  • Filosofi Anak Tangga: Ayah Hee-do pernah berpesan bahwa kesuksesan itu tidak seperti lereng gunung yang mulus, melainkan seperti anak tangga. Setiap kegagalan adalah pijakan untuk melompat lebih tinggi. Kadang kita merasa stagnan, padahal kita hanya sedang bersiap untuk naik tingkat.
  • Kekuatan Rasa Percaya: Saat Hee-do nyaris menyerah, pelatihnya mengingatkan: "Jika kamu belum bisa percaya pada dirimu sendiri, ingatlah pada orang-orang yang telah mempercayaimu." Dukungan tulus adalah oksigen bagi mereka yang rapuh.
  • Roda Kehidupan Yu-rim & Hee-do: Dari idola menjadi rival, lalu berubah menjadi sahabat yang paling memahami beban masing-masing. Salut untuk Yu-rim yang rela dianggap "pengkhianat" demi menjadi atlet naturalisasi Rusia—semua itu ia lakukan demi membayar utang orang tuanya.

​Sebagai penonton yang dulu mengikuti drama ini secara on-going, aku ingat betul riuhnya fandom saat itu. Teori konspirasi bertebaran: ada yang bilang Yi-jin akan meninggal, ada yang menebak Yi-jin sebenarnya bermarga Kim, sampai teori menikah di luar negeri. Semuanya dilakukan demi menolak kenyataan bahwa marga Min-chae bukan "Baek".

Lalu, Kenapa Menurutku Ini Happy Ending?

​Banyak yang "trauma" dengan ending-nya karena mereka tidak berakhir di pelaminan yang sama. Namun, izinkan aku menawarkan sudut pandang baru.

​Di dunia yang serba sulit, apa yang lebih happy ending daripada melihat mereka semua berhasil menjadi "manusia yang utuh"?

​Hee-do berhasil menjadi legenda dunia. Yi-jin bangkit dan menjadi jurnalis hebat. Mereka tidak gagal. Justru, cinta mereka di usia dua puluh satu adalah suntikan energi yang membuat mereka kuat mengejar mimpi masing-masing. Mereka saling mencintai dengan cara yang membangun: saling menguatkan agar bisa terbang lebih tinggi. Dan saat mencapai puncak, mereka sadar bahwa langit mereka sudah tidak lagi sama.

​Bagi Kim Min-chae, kisah ibunya adalah obat. Ia menemukan kembali percaya dirinya untuk kembali ke balet.

​Kehilangan seseorang bukan berarti kamu kehilangan masa depanmu. Kadang, seseorang hadir hanya untuk membukakan pintu menuju mimpimu, lalu ia harus pergi agar kamu bisa berjalan melewati pintu itu sendirian dengan kaki yang lebih kuat.

​Dan bagiku, itu adalah Happy Ending.

Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella