Raspberry Americano, Pahit yang Manis

Aku masih manusia kota. Masih minum kopi tanpa gula. Masih duduk sebentar sebelum pulang, menunggu pikiran selesai ribut sendiri.

Bedanya, ditahun yang baru ini aku ingin tidak lagi selalu menunggu gelap untuk menulis.


Dulu, Raspberry Americano lahir dari jeda yang dingin.

Dari hari-hari yang terasa terlalu panjang.

Dari pikiran yang memilih diam karena tidak tahu harus bicara ke siapa.


Aku belajar bahwa refleksi tidak harus muram.

Bahwa sadar diri tidak selalu berarti menghakimi diri.

Bahwa bertumbuh bisa dilakukan sambil tersenyum kecil, bukan sambil menahan napas.


Raspberry Americano hari ini bukan lagi tentang pahit yang ditahan.

Ia tentang pahit yang sudah dikenali.

Diseruput pelan, lalu disusul rasa lain yang datang belakangan.

Tidak mendominasi. Tapi cukup untuk mengingatkan bahwa hidup tidak pernah hanya satu rasa.


Aku masih menulis tentang lelah. Tentang ragu.

Tentang hidup yang tidak selalu spektakuler.

Bedanya, sekarang aku tidak lagi menolak rasa manis yang datang.

Aku membiarkannya ada. Tidak dipamerkan. Tidak juga dipaksakan.

Seperti kopi ini. Tetap pahit. Tapi tidak lagi sendirian.


Kalau kamu sampai di sini, mungkin kamu juga sedang berada di fase yang sama.

Masih jujur pada pahitnya, tapi mulai mengizinkan diri sendiri merasa sedikit ringan.

Duduklah sebentar, karena kita tidak sedang berlomba. Tidak juga sedang mencari hidup yang sempurna.

Kita hanya sedang belajar menikmati Raspberry Americano dengan rasa yang akhirnya lengkap.


source : https://www.instagram.com/p/DGxub-US77d/?img_index=2

Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella