Lutfi & Sekotak Brownies Kukus
Suatu pagi, Lutfi menghampiriku sambil membawa sekotak brownies kukus.
“Selamat pagi, Bu. Ini buat Ibu,” katanya sambil tersenyum.
“Wah, terima kasih, Lutfi,” balasku. “Kamu ulang tahun hari ini?”
“Bukan, Bu,” katanya pelan. “Cuma bagi-bagi saja. Syukuran.”
“Syukuran dalam rangka apa?”
“Karena Lutfi direkrut jadi karyawan tetap, Bu.”
Kalimat itu diucapkannya dengan senyum yang tulus, senyum yang tidak berisik, tidak berlebihan, tapi hangat. Kebahagiaannya berpindah begitu saja. Lewat senyum itu, dan lewat sekotak brownies kukus yang kini ada di tanganku.
Aku terdiam sebentar.
Ya, Tuhan.
Mungkin memang benar, bahagia itu sederhana.
Yang membuatnya terasa rumit adalah target-target kebahagiaan yang kita susun sendiri, lalu kita bandingkan dengan hidup orang lain.
Buat Lutfi, yang selama ini “hanya” menjadi pekerja outsourcing pengganti, kesempatan menjadi karyawan tetap adalah anugerah besar. Sebuah pintu yang akhirnya terbuka. Sebuah rasa aman yang selama ini ditunggu-tunggu.
Sementara aku, yang sudah lama berstatus karyawan tetap, masih sering menggerutu. Masih kerap membandingkan hidup sendiri dengan potongan-potongan kehidupan orang lain di Instagram. Termasuk kehidupan istri Pak Bos, yang unggahannya entah kenapa selalu berhasil membangunkan dengkisaurus di dalam hati.
Pagi ini, lewat Lutfi, aku kembali diingatkan.
Bahagia memang tidak selalu datang dalam bentuk besar dan gemerlap. Kadang ia datang dalam bentuk senyum tulus dan sekotak brownies kukus.
Dan entah kenapa,
itu sudah lebih dari cukup.

Comments
Post a Comment