Senja di Pojok Cafe
Suatu siang di sebuah kafe, aku bertemu seorang kawan lama.
Hampir dua tahun kami tak bertemu, dan komunikasi kami pun tak lagi serutin dulu. Seperti pertemuan kawan lama pada umumnya, kami menghabiskan waktu dengan menelusuri masa lalu. Cerita-cerita lama mengalir begitu saja, diselingi tawa kecil yang muncul dari kenangan yang dulu pernah begitu berarti.
Siang perlahan bergeser menjadi sore.
Percakapan kami pun ikut bergerak, dari masa lalu ke masa kini.
Ia bercerita tentang rencananya untuk menikah dalam waktu dekat. Aku mendengarkan dengan senyum tulus, lalu bergantian bercerita tentang betapa seringnya aku bertemu orang-orang yang menanyakan hal yang sama berulang kali, “kapan punya momongan?”
Setelah itu, kami terdiam.
Aku memperhatikan jemarinya yang memutar-mutar gelang di pergelangan tangannya. Gelang yang dulu juga pernah kupakai. Gelang persahabatan, begitu kami menyebutnya. Dulu, aku, Kay, dan Gina memilikinya. Sama persis, hanya berbeda inisial nama. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat itu.
Sambil menyesap sisa kopinya, ia akhirnya bertanya,
“Kamu gimana sama Gina? Masih nggak komunikasi?”
Aku tersenyum kecil. Sejak ia tiba-tiba mengajakku bertemu beberapa hari lalu, aku sudah menduga bahwa pertanyaan ini akan datang.
“Aku baik sama Gina. Nggak seintens dulu memang, tapi kami masih komunikasi,” jawabku pelan.
“Seperlunya saja?” tanyanya, menyelidik.
“Iya. Seperlunya saja.”
Ia menatapku sejenak. “Masih sakit hati?”
“Nggak,” jawabku sambil tersenyum.
Ia memiringkan kepalanya. Ada kerutan samar di antara alisnya.
“Percayalah,” kataku kemudian, “aku sudah nggak sakit hati. Rasa itu sudah hilang.”
Aku menghabiskan kopiku.
“Kalau kau bertanya apakah aku sudah memaafkan Gina, jawabanku iya. Aku sudah memaafkannya. Tapi mempercayainya kembali, itu hal yang berbeda, Kay. Aku tidak mau. Aku tidak mau kecewa lagi. Aku takut, kalau suatu hari nanti aku justru tak sanggup memaafkannya untuk kedua kalinya.”
Ia memalingkan wajah, menatap senja yang mulai turun.
“Aku rindu kita yang dulu,” katanya pelan.
“Aku juga,” jawabku jujur. “Tapi maaf, Kay. Aku sungguh tak mau mempercayainya lagi.”
Ia menghela napas.
“Aku nggak bisa memaksamu. Aku nggak pernah ada di posisimu. Mengetahui kamu sudah memaafkan Gina saja sudah cukup buatku. Aku hanya ingin kamu tahu, aku rindu kita yang dulu.”
Kami kembali terdiam.
Entah karena senja yang terlalu indah untuk disela, atau karena masing-masing dari kami sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tak lama kemudian, ia melepas gelang persahabatan itu dari pergelangan tangannya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia tersenyum padaku.
“Suatu hari aku akan pakai ini lagi. Punyamu masih ada, kan?”
Aku mengangguk dan ia tersenyum.

Comments
Post a Comment