Selamat Hari Ayah, Pa
Seorang teman pernah bertanya, mengapa aku bisa menonton film romantis dengan wajah datar, tapi menangis tersedu-sedu saat menonton Guardians of the Galaxy Vol. 2. Ia juga heran melihatku buru-buru menekan tombol next setiap kali Spotify memutar Dance With My Father.
“Apa sih yang bikin kamu sesensitif itu kalau urusannya soal Ayah?” tanyanya, dengan kerutan kecil di antara alisnya.
“Karena semua itu bikin aku ingat sama penyesalanku ke Papa,” jawabku sambil tersenyum.
Setelah itu, pikiranku sibuk berselancar. Pulang ke kenangan-kenangan lama tentang Papa.
Sejak kecil, aku terbiasa melihat Papa berangkat kerja saat pagi masih gelap dan pulang ketika malam sudah terlalu larut. Saat musim hujan, aku terbiasa melihatnya pulang dengan tubuh basah kuyup, telapak tangan dan kakinya memutih dan berkerut. Namun Papa tidak pernah lupa tersenyum. Setelah berganti pakaian, ia akan menggendongku, memelukku erat, dan membiarkanku tertidur di pangkuannya.
Setiap hari, ia membisikkan kalimat yang sama.
“Ini anak kebanggaan Papa.”
Papa suka minum kopi. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan tiga sampai empat cangkir. Suatu sore, ketika aku sedang asyik menonton film, Papa memanggilku.
“Tolong buatkan Papa kopi ya, Ta.”
Aku menjawab sekenanya, “Nanti aja, Pa. Lagi nanggung ceritanya.”
“Papa pengin sekarang, bukan nanti,” katanya sambil tersenyum.
Aku menggerutu dalam hati. Dengan wajah masam, aku membuatkan kopi untuknya. Ketika kuserahkan cangkir itu, Papa tersenyum begitu bahagia.
“Terima kasih ya. Ini anak kebanggaan Papa.”
Aku tidak pernah menyangka, gerutuku sore itu akan menjadi salah satu penyesalan yang terus mengikutiku sepanjang hidup.
Papa juga suka jam tangan. Ia hanya punya satu, jam tangan lama yang dipakainya sejak muda. Jam itu sering mati dan bolak-balik diservis. Suatu hari, saat aku berjalan-jalan bersama kekasihku, aku melihat sebuah jam tangan di kios kecil di mall. Harganya empat ratus ribu rupiah. Aku langsung teringat, dua minggu lagi Papa ulang tahun.
Namun pikiranku berbelok. Aku sedang menabung untuk iPhone putih yang sudah lama kuimpikan. Tahun depan saja, pikirku. Nanti aku belikan Papa jam tangan yang lebih bagus dan bermerek. Tahun ini cukup doa dan ucapan saja. Papa pasti mengerti.
Aku tidak pernah menyangka, penundaan itu juga akan menjadi penyesalan yang menetap lama.
20 Mei 2012.
Pagi itu terasa biasa saja. Alarm tetap menyebalkan. Rutinitas berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Hanya satu hal yang berbeda. Papa bangun lebih pagi dari biasanya.
Saat aku berpamitan berangkat kerja, Papa mengantarku sampai pagar.
“Hati-hati. Kerja yang rajin. Tapi yang paling penting jaga kesehatan. Gajimu buat senang-senang saja, jangan buat bayar biaya berobat,” katanya.
Sepersekian detik, ada dorongan yang sangat kuat untuk memeluknya. Mengucapkan terima kasih. Hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Tapi aku menepisnya.
“Iya, Bos. Tenang aja. Aku anak posyandu. Sehat dan kuat,” jawabku sambil bercanda.
Papa tersenyum.
Aku tidak pernah menyangka, itu adalah senyum terakhir yang kulihat darinya.
Aku juga tidak pernah menyangka, pelukan yang kutunda pagi itu akan menjadi penyesalan yang tak pernah benar-benar pergi.
Selamat Hari Ayah, Pa.
Semoga, di mana pun Papa berada, Papa tahu aku masih berusaha menjadi anak yang Papa banggakan.

Iloveyou anak kebanggaan Papaa dan mama..
ReplyDelete