[Review] La La Land | Realita, Cinta, Mimpi dan Akhir yang Bahagia
Akhir pekan lalu, di sela libur kerja, aku akhirnya menonton film yang sudah lama berseliweran di mana-mana. Film yang katanya bagus, menyabet banyak penghargaan, dan punya rating tinggi: La La Land.
Jujur saja, awalnya aku agak ogah-ogahan. Drama musikal bukan favoritku. Rasanya selalu sedikit absurd, tokohnya bisa tiba-tiba bernyanyi dan menari di tengah percakapan. Belum lagi stigma cerita klise: entah happy ending ala dongeng, atau sad ending ala Romeo dan Juliet. Ditambah ribuan ulasan netizen yang bilang film ini bakal ninggalin rasa tidak enak setelah ditonton. Aku jadi maju mundur. Mau nonton, tapi harus kumpulin mood dulu.
Akhirnya, aku menontonnya juga.
Film ini bercerita tentang dua orang pemimpi: Mia dan Sebastian. Mia bekerja paruh waktu di kedai kopi sambil terus datang ke audisi, berharap suatu hari bisa menjadi aktris. Sebastian adalah pianis pencinta jazz klasik yang idealis, bermimpi punya klub jazz sendiri agar musik yang ia cintai tidak punah. Namun, idealisme itu membuat hidupnya tidak stabil. Ia terpaksa memainkan lagu-lagu populer yang tidak ia sukai demi bertahan hidup.
Mereka bertemu dengan cara yang tidak manis. Tidak romantis. Bahkan cenderung menyebalkan. Namun, perlahan mereka menemukan satu kesamaan: mereka sama-sama bermimpi. Sama-sama sedang berjuang. Dan dari sanalah cinta tumbuh.
Konflik muncul ketika cinta bertemu realita. Ketika mimpi menuntut harga. Sebastian harus memilih antara idealisme dan stabilitas. Mia harus berjuang sendirian menghadapi kegagalan demi kegagalan. Cinta mereka diuji bukan oleh orang ketiga, melainkan oleh pilihan hidup.
Aku tidak akan membahas film ini dari sisi teknis. Semua orang sudah melakukannya. Film ini memang cantik. Warnanya, musiknya, dan chemistry para tokohnya mudah membuat orang jatuh cinta. Tapi yang membuatku diam setelah menontonnya adalah bagian akhirnya.
Mia dan Sebastian tidak bersama. Mereka memilih jalan masing-masing. Mia menjadi aktris sukses. Sebastian akhirnya memiliki klub jazz impiannya. Lima tahun kemudian, Mia datang ke klub itu bersama suaminya. Mereka saling menatap. Tersenyum. Tidak ada amarah. Tidak ada penyesalan yang berisik.
Lalu film ini memperlihatkan epilog tentang “seandainya”. Seandainya hidup berjalan ideal. Seandainya cinta dan mimpi bisa selalu sejalan. Seandainya tidak ada yang perlu dikorbankan.
Dan justru di situlah aku merasa film ini jujur.
Apakah La La Land sad ending?
Menurutku, tidak.
Ini bukan kisah tentang kegagalan cinta. Ini kisah tentang keberanian memilih. Tentang menerima bahwa hidup tidak selalu memberi kita semuanya sekaligus. Bahwa bahagia tidak selalu berarti menikah dengan orang yang kita cintai. Bahwa mimpi juga layak diperjuangkan, meski harus berjalan tanpa cinta di sampingnya.
Film ini terasa pahit-manis, seperti hidup itu sendiri.
Dan mungkin, itu sebabnya La La Land terasa begitu dekat.
Karena pada akhirnya,
tidak semua cinta ditakdirkan untuk tinggal.
Ada yang cukup singgah, lalu menjadi kenangan yang membantu kita sampai ke mimpi.
Comments
Post a Comment