Aku, Adik Kecilku, dan Kue Sus Rasa Matcha


Hiruk pikuk bandara selalu membuatku menarik napas panjang.
Antrian yang berdesakan, serangkaian pemeriksaan yang mengharuskanku melepas jam tangan, mengeluarkan isi kantong, memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu menghadapi orang-orang yang bergerombol sambil menggerutu menunggu barang mereka keluar dari mesin x-ray. Semua itu selalu terasa melelahkan.

Aku tidak pernah benar-benar menyukai bandara.
Jika harus memilih satu tempat favorit, mungkin hanya ruang tunggu. Setidaknya di sana aku bisa duduk diam, bersama buku dan headset tanpa lagu, sekadar untuk menghindari percakapan yang tidak perlu. Itu caraku bertahan.

Namun hari itu berbeda.

Hari itu aku kembali ke bandara untuk perjalanan menuju Salatiga, dan kali ini aku tidak sendiri. Aku bersama Adik Kecilku. Perjalanan ke bandara kami habiskan dengan mengobrol tentang apa saja. Mengomentari apa pun yang lewat di depan mata. Mengejek hal-hal kecil. Menertawakan yang pantas ditertawakan. Perjalanan yang ringan, tanpa beban.

Sesampainya di bandara, sopir menurunkan kami agak jauh dari pintu masuk. Biasanya aku sudah mulai menggerutu. Tapi hari itu, entah mengapa, aku memilih berjalan saja. Kami melanjutkan obrolan sambil memperhatikan orang-orang di sekitar. Ada yang terburu-buru. Ada yang sibuk menelepon. Ada yang santai. Ada yang memeluk ibunya erat-erat sambil menyeret koper besar, seolah akan pergi lama. Bandara selalu penuh dengan perjumpaan dan perpisahan.

Lalu kami mencium aroma itu.
Kedai kue sus di sisi kiri jalan.

Bau kue yang baru matang membuat kami refleks melangkah mendekat. Tanpa pikir panjang, aku menggigit kue pertama dengan penuh semangat. Sepertinya Adik Kecilku juga begitu. Kedai itu unik. Varian rasa berubah setiap hari. Hari itu, entah kenapa, semesta sedang baik: cokelat, vanila, dan matcha.

“Matcha satu, Mas,” kataku yakin.
“Dua, Mas,” sahut Adik Kecilku tanpa ragu.

Aku terkejut. Ia juga suka matcha.
Jarang sekali aku bertemu orang yang satu selera denganku. Hari itu, aku benar-benar merasa beruntung.

Dengan kantong kue sus matcha di tangan, kami melanjutkan langkah. Melewati semua prosedur bandara yang biasanya menyebalkan, tapi kali itu terasa lebih ringan. Seolah Adik Kecilku memang punya jimat, kemampuan kecil untuk membuat hal-hal yang melelahkan menjadi menyenangkan.

Sejak hari itu, setiap perjalanan ke bandara selalu terasa berbeda. Kedai kue sus menjadi perhentian kecil kami. Kami menguji peruntungan: ada matcha atau tidak hari itu. Kadang kami beruntung. Kadang tidak. Kadang kami harus menahan diri agar aroma kue tidak membuat kami uring-uringan.

Lalu, seperti semua hal baik, itu berakhir.

Tugas bersama kami selesai. Kami tidak lagi bepergian bersama. Aku kembali ke bandara sendirian, atau dengan rekan tugas yang lain. Dan benar saja, bandara kembali menjadi bandara seperti semula. Melelahkan. Riuh. Datar. Kedai kue sus pun terasa berbeda. Aroma yang dulu membuat kami tersenyum kini justru menghadirkan rasa kehilangan.

Aku rindu Adik Kecilku.
Rindu berjalan bersamanya sambil memegang kantong kue sus matcha. Ada atau tidak adanya matcha kini tidak lagi terasa penting. Yang hilang bukan kuenya, melainkan kebersamaan itu.

Dalam setahun terakhir, kami tertawa, menangis, berbagi cerita, bertengkar, lalu berpelukan sambil saling meminta maaf. Bagi diriku, Adik Kecilku bukan sekadar teman perjalanan. Ia seperti ruang hijau kecil di tengah kota. Tenang. Menyenangkan. Utopia kecil yang tidak selalu bisa ditemui.

Di mana pun ia berada, dengan siapa pun ia bekerja, aku yakin ia akan membawa rasa menyenangkan yang sama. Doaku selalu menyertainya.

Bandara dan kue sus rasa matcha akan selalu mengingatkanku padanya.
Dan semoga, suatu hari nanti, kami kembali bertugas bersama.
Kembali berjalan beriringan.
Kembali menguji peruntungan di kedai yang sama.


Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella