Tentang Kebahagiaan

Tahun 2008, tujuh tahun yang lalu, aku memulai perjalanan panjang bernama tugas akhir.
Seperti kebanyakan mahasiswa pada umumnya, aku sempat kebingungan menentukan topik. Hingga akhirnya aku kembali pada satu pertanyaan yang sejak kecil terus menggelitik pikiranku, dan aku yakin juga menjadi pertanyaan banyak manusia di dunia ini: kebahagiaan.

Apa itu bahagia.
Bagaimana rasanya.
Bagaimana caranya agar tetap bahagia.
Dan, sebenarnya di mana kebahagiaan itu berada.

Kebahagiaan adalah topik yang tidak pernah usang. Semua manusia, dalam satu atau lain bentuk, menjadikannya tujuan hidup. Kita mengejarnya, membayangkannya, bahkan sering kali terobsesi padanya. Ada istilah ultimate happiness, kebahagiaan puncak yang katanya abadi dan tak pernah habis.

Pencarian ini membawaku pada sebuah diskusi ringan dengan seorang sahabat yang sangat kukagumi kecerdasannya, Dedi. Dari percakapan-percakapan sederhana itulah, topik besar tentang kebahagiaan mulai mengerucut, khususnya pada relasinya dengan kemiskinan. Sebab, mau tidak mau, masih banyak dari kita yang meyakini bahwa uang dan kekayaan adalah sumber utama kebahagiaan. Lalu muncul pertanyaan besar: bagaimana mungkin seseorang bisa bahagia ketika hidupnya diliputi kekurangan?

Pertanyaan itu akhirnya menjadi fondasi penelitianku.

Subjek penelitianku, sebut saja Ibu Fatimah, adalah seorang perempuan paruh baya yang bekerja sebagai tukang parkir di sekitar sebuah universitas ternama di Surabaya. Seorang janda dengan lima orang anak, dua kali gagal dalam pernikahan, dan pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Pada awalnya, satu pertanyaan terus berputar di kepalaku setiap kali berinteraksi dengannya: bagaimana mungkin ia bisa bahagia dengan hidup yang sedemikian berat?

Selama kurang lebih sembilan bulan, aku berjalan bersama beliau. Berbagi cerita, mengamati kesehariannya, bermain dengan anak-anaknya, makan malam bersama, hingga melihat caranya membangun relasi dengan orang-orang di sekitarnya. Perlahan, aku mulai memahami bagaimana ia memaknai hidup dan merespons setiap peristiwa yang datang.

Satu hal yang sangat membekas dari Ibu Fatimah adalah keyakinannya tentang penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Dalam kondisi apa pun, bahkan di titik paling terpuruk sekalipun, ia tidak pernah menyalahkan, apalagi mempertanyakan keadilan Sang Maha Adil. Keyakinan itu tidak membuat hidupnya menjadi mudah, tetapi membuatnya tetap utuh.

Dari tugas akhir itu, dan dari perjumpaanku dengan Ibu Fatimah, aku belajar sesuatu yang sangat berharga. Kebahagiaan ternyata tidak terletak pada uang, harta, fisik, atau popularitas. Kebahagiaan bukan soal apa, siapa, kapan, atau di mana. Kebahagiaan adalah soal bagaimana kita merespons hidup.

Dengan segala keterbatasan dan keletihan dalam perjalanannya, Ibu Fatimah adalah pribadi yang sungguh berbahagia. Ia selalu menghitung kebahagiaannya, sekecil apa pun itu. Ia mensyukuri hal-hal sederhana yang mungkin sering kita abaikan. Di situlah, aku percaya, letak kekekalan kebahagiaannya.

Tulisan ini bukanlah kisah hidup Ibu Fatimah, dan tentu bukan pula resep instan untuk hidup bahagia. Aku juga tidak sedang mengatakan bahwa penderitaan adalah alat untuk menunjukkan kuasa Sang Pencipta. Yang ingin kusampaikan sederhana: dalam hidup, kita sering merasa kurang karena terlalu fokus pada jarak antara harapan dan pencapaian, hingga lupa melihat seberapa jauh kita telah melangkah.

Hargai pencapaian kita.
Syukuri hal-hal kecil yang kita miliki.
Dan jangan berhenti mengisi gelas kebahagiaan kita, yang mungkin sempat terasa kosong.

Karena pada akhirnya,
kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh kualitas cara kita berpikir.

“The happiness of your life depends upon the quality of your thoughts.”
— Marcus Aurelius




Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella