10 Rules for Happy Living!
Catatan setelah waktu berjalan :
Aku masih ingat, gambar itu selalu terselip di agendaku. Seolah bahagia adalah bentuk aturan. Seolah bahagia bisa dirapikan, diberi nomor, lalu dijalani dengan patuh.
Tetapi bahagia tidak bekerja seperti itu.
Ia datang pelan-pelan, sering kali setelah kita lelah, dan hampir selalu setelah kita berhenti memaksa. Ini bukan lagi tentang aturan. Ini tentang hal-hal yang kupelajari, sambil hidup berjalan.
1. Bahagia itu sering datang diam-diam. Dalam kopi yang masih hangat saat pagi terlalu cepat, atau pulang tanpa macet setelah hari yang panjang.
2. Tidak semua orang harus paham jalan hidup kita. Kadang cukup satu dua orang saja. Sisanya, ya sudah.
3. Sejak berhenti membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain, aku sadar bahagia ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Aku saja yang sibuk melihat ke samping.
4. Banyak rencana tidak jadi apa-apa. Dan anehnya, hidup tetap berjalan. Pelan-pelan, tapi tetap sampai.
5. Mengeluh memang terasa lega sebentar. Tapi sering kali, duduk diam sambil menarik napas panjang lebih membantu.
6. Tidak semua hal perlu dibalas. Ada yang cukup dibaca. Ada yang cukup didiamkan. Ada yang memang lebih sehat dilewatkan.
7. Kita boleh capek. Boleh berhenti sebentar. Tidak semua jeda adalah kegagalan.
8. Memaafkan tidak selalu diikuti kembali. Kadang cukup selesai di hati, tanpa harus mengulang cerita yang sama.
9. Kebahagiaan orang lain tidak mencuri apa pun dari hidup kita. Ia hanya hidup di jalurnya sendiri.
10. Bahagia bukan sesuatu yang kita kejar sampai habis tenaga. Ia hadir saat kita berhenti tergesa dan mulai berjalan dengan sadar.
Aku tidak lagi mencari bahagia dengan daftar yang harus dipatuhi. Aku menemukannya saat berhenti menuntut hidup untuk selalu sesuai keinginanku.
Mungkin saja itu satu-satunya cara agar bahagia mau tinggal lebih lama.

Comments
Post a Comment