Aku dan Sayapku
Pernah mendengar nasihat orang-orang,
“Jangan terbang terlalu tinggi. Semakin tinggi kau terbang, semakin sakit saat jatuh”?
Aku baru benar-benar memahaminya setelah mengalaminya sendiri.
Aku pernah terbang setinggi yang aku bisa.
Dan saat itu aku bahagia. Teramat bahagia.
Angin menyapu tubuhku dengan sejuk, matahari menghangatkan kulitku, dan kota terbentang di bawah sana dalam warna-warna yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dari atas, segala sesuatu tampak kecil, sederhana, dan bisa kupahami. Untuk pertama kalinya, aku merasa bebas.
Kebahagiaan itu datang bersama sepasang sayap baru. Sayap yang gagah, kokoh, dan terasa begitu cocok denganku. Orang-orang memperingatkanku. Mereka berkata sayap itu terlalu baru, terlalu cepat kugunakan. Mereka menyarankan agar aku belajar perlahan, agar aku tidak jatuh. Namun aku menolak.
Dengan keyakinan penuh, aku berkata bahwa ini adalah sayap terbaik yang pernah kumiliki. Sayap yang kuimpikan sejak lama. Sayap yang, kupikir, akan selalu menopangku meski aku terjatuh.
Mereka hanya tersenyum melihat mataku yang berbinar. Aku tak pernah tahu, apakah itu senyum ikut bahagia atau senyum pasrah melihat keras kepalaku.
Ketika aku menoleh ke belakang, aku teringat sayap-sayap yang pernah membawaku terbang sebelumnya.
Sayap hitam tipis yang memesona.
Sayap pertamaku.
Aku berkelana lama bersamanya, menikmati pengalaman terbang yang pertama. Orang-orang berkata sayap itu berbahaya, penuh sisi tajam yang bisa melukaiku. Aku mengabaikannya. Aku terlalu jatuh cinta pada sensasi terbang.
Sampai suatu hari, aku lengah. Dan sayap itu menusukku.
Lalu pergi, terbang bersama manusia lain yang ternyata telah lama menunggunya.
Kemudian ada sayap abu-abu.
Ringkih, lembut, dan tak menarik perhatianku pada awalnya.
Ia mendekat diam-diam, memintaku merabanya. Kelembutannya membuatku ragu pada penilaianku sendiri. Aku akhirnya mencobanya. Ia membawaku ke dunia yang baru, dunia yang membuatku perlahan jatuh cinta. Aku mencintainya terlalu dalam.
Dan saat aku mulai percaya, ia melepasku. Di ketinggian, aku terjatuh tanpa peringatan. Tubuhku hancur, hatiku berkeping. Di tengah cibiran dan rasa sakit, aku memunguti diriku sendiri, menyusunnya kembali dengan tangan gemetar. Saat itu, aku sempat berjanji pada diri sendiri untuk tidak pernah terbang lagi.
Sayap berikutnya terbuat dari aluminium.
Besar, kuat, dan mengagumkan. Ia memberiku rasa aman, namun juga mencengkeram terlalu erat. Retakan muncul di tubuhku, perlahan menjadi nyeri yang tak bisa kuabaikan. Aku akhirnya pergi, dan ia pun menemukan manusia lain. Kami saling tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa dendam.
Ada pula sayap rotan.
Tak indah, penuh guratan, dan menyimpan luka-lukanya sendiri.
Aku ingin menjaganya, tapi ia terlalu sibuk dengan lukanya hingga melukaiku. Saat aku pergi, ia memintaku kembali. Namun aku tak menoleh. Aku tahu, ia bukan sayap yang bisa menjagaku.
Dari semua itu, aku belajar. Aku berhenti terbang dan mulai membekali diriku sendiri.
Berbagai sayap datang, dan aku tak lagi menoleh. Aku sibuk membangun diriku, menata ulang kepercayaanku, dan belajar berdiri tanpa bergantung.
Hingga suatu hari, seseorang mengenalkanku pada sayap putih berbulu.
Besar, kuat, dan lembut seperti malaikat. Ia melindungiku, mencintaiku, dan membuatku percaya pada masa depan. Aku kembali terbang. Lebih tinggi dari sebelumnya. Aku bahagia, teramat bahagia.
Aku pikir aku telah menemukan sayapku. Sampai suatu hari karena kesalahpahaman, ia terdiam. Lalu melepasku. Kini aku kembali meluncur ke bawah.
Aku tak tahu apakah ia akan mengulurkan tangannya, atau membiarkanku jatuh sekali lagi. Aku hanya tahu satu hal, aku masih menggapainya, sambil berdoa, dengan air mata yang tak lagi bisa kutahan.


Comments
Post a Comment