One Love Till the End - Happily Ever After
Happily ever after is not made of a condition without turmoil, but made of a decision in the midst of it.
Update, bertahun tahun kemudian :
Quote di atas dan juga gambar-gambarnya aku sematkan pada tahun 2011,
pada fase hidup di mana aku masih percaya cinta harus selalu sempurna.
Quote dan gambar itu akan kubiarkan tinggal,
sebagai pengingat bahwa aku pernah berharap sebegitu polosnya.
Dulu, aku percaya cinta hanya punya satu bentuk.
One love.
Till end.
Happily ever after.
Aku percaya cinta harus utuh, lurus, dan tidak bercabang.
Aku percaya jika kita cukup mencintai, semuanya akan selesai dengan bahagia.
Waktu berjalan, dan hidup mengajarkanku hal lain.
Bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang rapi.
Bahwa bertahan tidak selalu berarti benar.
Bahwa pergi pun kadang adalah bentuk paling jujur dari mencintai.
Namun satu hal tidak berubah.
Keinginanku untuk mencintai dengan sungguh-sungguh.
Bukan lagi tentang “selamanya” yang diucapkan di awal,
tapi tentang memilih setiap hari.
Tentang bertahan ketika mampu.
Dan melepaskan ketika memang perlu.
Jika suatu hari cinta itu bertahan sampai akhir, aku akan bersyukur.
Jika tidak, aku juga tidak lagi marah.
Karena kini aku tahu,
cinta yang baik tidak selalu berakhir bahagia,
tapi selalu mengajarkan sesuatu.
Dan kini aku juga tahu,
happily ever after bukan tentang akhir cerita.
Ia tentang bagaimana kita berjalan di dalamnya.







Comments
Post a Comment