Tentang Angkatan 2025, dan Waktu yang Berlalu

Tulisan ini pertama kali ditulis tahun 2009. Ditulis sebagai sebuah pidato untuk angkatan. Kini kutuliskan kembali sebagai catatan, agar ia tetap tinggal dengan caranya sendiri.

April 7, 2009 at 11:56pm
(sehari sebelum pengumuman Juara Dekan Cup 2009)



Tahun itu, kami tahu satu hal pasti, kami sedang berada di ujung.
Tahun terakhir menyandang nama angkatan 2005.
Setelahnya, tidak ada lagi sekat.
Kami akan melebur, menjadi bagian dari angkatan bintang-bintang, dan perlahan hanya menjadi nama dalam arsip kenangan.

Selama 3,5 tahun, kami berjalan bersama.
Lewat dekan cup, lewat latihan, lewat pertandingan, lewat lelah yang tidak selalu terlihat. Ada yang turun ke lapangan, ada yang berdiri memberi dukungan, ada yang memilih berdoa dalam diam. Semuanya sah. Semuanya berarti.

Saat itu, aku menyadari satu hal.
Bahwa menang atau kalah bukan lagi yang utama.
Apakah gelar juara umum bisa dipertahankan atau tidak, rasanya menjadi nomor dua.

Yang lebih penting adalah perjalanan itu sendiri.
Tetes keringat yang jatuh tanpa disadari.
Air mata yang ditahan.
Amarah yang sempat muncul lalu reda.
Teriakan semangat yang menggema.
Canda tawa di sela-sela lelah.
Waktu yang kami habiskan bersama, tanpa tahu bahwa suatu hari semua ini akan selesai.

Semua itu jauh lebih berharga daripada sebuah predikat.

Ada satu perasaan yang sejak saat itu selalu tinggal di dadaku, meski tak pernah benar-benar terucap dengan lantang.
Aku bangga. Bangga pernah menjadi bagian dari angkatan 2005. Bangga pernah berjalan sebagai satu kesatuan.

Dan aku berharap, kebanggaan itu tidak berhenti ketika acara selesai, ketika lampu padam, dan ketika sorak sorai mereda.
Semoga ia tetap tinggal. Diam-diam menguat.
Terpahat dalam ingatan kita masing-masing.

Karena angkatan 2005, pada akhirnya, bukan soal nama atau tahun.
Ia adalah tentang orang-orang yang pernah berjalan bersama pada satu fase hidup yang tidak akan terulang.



Comments

Popular posts from this blog

[Sudut Pandang] Bawang Merah, Bawang Putih

[Sudut Pandang] Roro Jonggrang : Ego dan Kutukan

[Sudut Pandang] Cinderella