Posts

Showing posts from October, 2011

Fairytales Do Exist?

Image
Seiring waktu berjalan, kita semua perlahan belajar satu hal: bahwa dongeng tidak selalu nyata, dan sering kali terdengar tidak realistis. Ia hanya menjadi cerita pengantar tidur, jauh dari akal sehat, dan perlahan kita tinggalkan. Namun ada satu hal yang tetap ingin kupercaya. Bahwa dongeng bisa diciptakan. Bukan oleh peri. Bukan oleh labu yang berubah menjadi kereta. Bukan pula oleh gaun biru atau sepatu kaca. Dongeng diciptakan oleh manusia. Aku, kamu, kita semua. Kita adalah sutradara sekaligus pemeran dalam kehidupan kita sendiri. Dongeng yang realistis tidak membutuhkan keajaiban besar. Ia hanya butuh dua orang yang saling menghargai. Yang memilih percaya. Dan yang tidak berhenti berharap bahwa, pada akhirnya, segalanya akan baik-baik saja. Mungkin itulah bentuk dongeng yang paling masuk akal. Dan mungkin, justru karena itulah, ia bisa benar-benar terjadi.

One Love Till the End - Happily Ever After

Image
Happily ever after is not made of a condition without turmoil, but made of a decision in the midst of it. Update, bertahun tahun kemudian : Quote di atas dan juga gambar-gambarnya aku sematkan pada tahun 2011, pada fase hidup di mana aku masih percaya cinta harus selalu sempurna. Quote dan gambar itu akan kubiarkan tinggal, sebagai pengingat bahwa aku pernah berharap sebegitu polosnya. Dulu, aku percaya cinta hanya punya satu bentuk. One love. Till end. Happily ever after. Aku percaya cinta harus utuh, lurus, dan tidak bercabang. Aku percaya jika kita cukup mencintai, semuanya akan selesai dengan bahagia. Waktu berjalan, dan hidup mengajarkanku hal lain. Bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang rapi. Bahwa bertahan tidak selalu berarti benar. Bahwa pergi pun kadang adalah bentuk paling jujur dari mencintai. Namun satu hal tidak berubah. Keinginanku untuk mencintai dengan sungguh-sungguh. Bukan lagi tentang “selamanya” yang diucapkan di awal, tapi tentang memilih setiap ...

Tentang Angkatan 2025, dan Waktu yang Berlalu

Image
Tulisan ini pertama kali ditulis tahun 2009. Ditulis sebagai sebuah pidato untuk angkatan. Kini kutuliskan kembali sebagai catatan, agar ia tetap tinggal dengan caranya sendiri. April 7, 2009 at 11:56pm (sehari sebelum pengumuman Juara Dekan Cup 2009) Tahun itu, kami tahu satu hal pasti,  kami sedang berada di ujung. Tahun terakhir menyandang nama angkatan 2005. Setelahnya, tidak ada lagi sekat. Kami akan melebur, menjadi bagian dari angkatan bintang-bintang, dan perlahan hanya menjadi nama dalam arsip kenangan. Selama 3,5 tahun, kami berjalan bersama. Lewat dekan cup, lewat latihan, lewat pertandingan, lewat lelah yang tidak selalu terlihat. Ada yang turun ke lapangan, ada yang berdiri memberi dukungan, ada yang memilih berdoa dalam diam. Semuanya sah. Semuanya berarti. Saat itu, aku menyadari satu hal. Bahwa menang atau kalah bukan lagi yang utama. Apakah gelar juara umum bisa dipertahankan atau tidak, rasanya menjadi nomor dua. Yang lebih penting adalah perjalanan itu se...