Aku, Adik Kecilku, dan Kue Sus Rasa Matcha
Hiruk pikuk bandara selalu membuatku menarik napas panjang. Antrian yang berdesakan, serangkaian pemeriksaan yang mengharuskanku melepas jam tangan, mengeluarkan isi kantong, memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu menghadapi orang-orang yang bergerombol sambil menggerutu menunggu barang mereka keluar dari mesin x-ray. Semua itu selalu terasa melelahkan. Aku tidak pernah benar-benar menyukai bandara. Jika harus memilih satu tempat favorit, mungkin hanya ruang tunggu. Setidaknya di sana aku bisa duduk diam, bersama buku dan headset tanpa lagu, sekadar untuk menghindari percakapan yang tidak perlu. Itu caraku bertahan. Namun hari itu berbeda. Hari itu aku kembali ke bandara untuk perjalanan menuju Salatiga, dan kali ini aku tidak sendiri. Aku bersama Adik Kecilku. Perjalanan ke bandara kami habiskan dengan mengobrol tentang apa saja. Mengomentari apa pun yang lewat di depan mata. Mengejek hal-hal kecil. Menertawakan yang pantas ditertawakan. Perjalanan yang ringan, tanpa beban. Se...