[Review] Dilan 1990 | Aku Gila Karena Dilan


Awalnya, aku sempat ingin menulis “Spoiler Alert” di judulnya. Tapi rasanya tidak perlu. Seantero Indonesia sepertinya sudah menonton Dilan 1990. Dan ya, aku salah satu yang ikut terseret demam itu. Kalau kamu juga, mari saling berpelukan sebentar. Kalau belum, setidaknya sekarang kamu pasti penasaran.

​Tiga minggu sebelum akhirnya menonton, aku sebenarnya sudah memasang tameng. Pengalamanku dengan film cinta-cintaan SMA tidak selalu menyenangkan. Banyak yang terasa dipaksakan, konflik dibuat-buat, dan ujung-ujungnya membuatku ingin keluar bioskop sambil menggerutu. Jadi, ketika Winda dan Luci mengajakku menonton Dilan, aku sudah apatis duluan. Tapi melihat mereka begitu antusias, aku tidak tega menolak.

​Sikap apatis itu bukan tanpa sebab. Awal tahun itu, aku menonton sebuah film remake yang sangat kuhargai versi lamanya. Ekspektasiku tinggi, tapi aku justru pulang dengan rasa kesal. Ceritanya dangkal, emosinya dipaksa, dan bayangan indah film lamanya runtuh. Sejak saat itu, aku jadi pelit berharap.

​Itulah sebabnya Dilan tidak pernah masuk daftar tontonan wajibku. Sampai beberapa jam sebelum menonton, komentar nyinyirku masih keluar: "Kenapa bukan Adipati Dolken saja yang jadi Dilan? Iqbaal terlalu imut," pikirku. Aku sudah menyiapkan hati untuk kecewa.

​Ternyata, aku salah besar.

​Cerita Dilan 1990 sebenarnya sederhana. Tentang Dilan, anak SMA anggota geng motor yang mendekati Milea, siswi pindahan dari Jakarta. Film ini nyaris tanpa konflik besar. Ringan, mengalir, tapi justru di situlah kekuatannya. Sepanjang film, aku mendapati diriku tersenyum sendiri. Bukan karena gombalan receh, tapi karena rangkaian kata-kata yang terasa tulus, cerdas, dan menghidupkan.

​Aku harus mengakui: Iqbaal adalah Dilan yang tepat. Ia tidak sekadar memerankan, tapi menghidupkan karakter itu dengan hati. Film ini terasa hangat, jujur, dan tidak berusaha menjadi lebih dari yang seharusnya.

​Buatku yang sudah melewati usia dua puluhan, Dilan adalah angin segar. Ia membawaku kembali ke masa SMA, ketika beban hidup hanya sejauh rumus fisika yang tidak pernah benar-benar kupahami. Masa ketika cinta masih sederhana, ketika deg-degan menunggu telepon rumah berbunyi, dan ketika rindu harus ditahan karena tidak ada pesan instan yang bisa dikirim sesuka hati.

​Film ini memberiku jeda. Sejenak melupakan pekerjaan, tagihan, dan daftar tanggung jawab orang dewasa. Dilan mengingatkanku bahwa bahagia pernah sesederhana hadiah TTS yang sudah diisi, cokelat yang dititipkan ke tukang koran, atau kerupuk yang dibagi dua untuk makan malam.

​Aku menonton film ini dengan tawa, jeritan kecil, dan senyum yang tidak bisa ditahan. Mendengar kalimat-kalimat Dilan membuat banyak perempuan di bioskop (termasuk aku) mendadak ingin menjadi Milea. Bukan karena Dilan sempurna, tapi karena caranya mencintai terasa ringan dan penuh perhatian.

​Aku tidak ingat kapan terakhir kali keluar bioskop dengan hati sebegitu hangatnya. Bahkan seminggu setelah menonton, pikiranku masih dipenuhi Dilan. Aku membaca ulang novelnya, menelusuri tagar, hingga tersenyum sendiri melihat materai di meja kerja.. benda yang selama bertahun-tahun terasa hambar. Kerupuk bawang saat makan siang pun mendadak terasa istimewa.

​Seminggu kemudian, aku menonton lagi. Kali ini lebih tenang, tapi justru lebih dalam. Aku tidak lagi sekadar menonton Dilan dan Milea; aku membayangkan diriku di sana. Menjadi remaja kembali. Menjadi sederhana. Dicintai dengan cara yang tidak ribet.

​Mungkin aku memang sedikit gila karena Dilan. Tapi jika kegilaan itu mengingatkanku pada cinta yang tulus, yang diungkapkan dengan kata-kata kecil dan perhatian yang jujur.. aku tidak keberatan.

​Seperti kata Pidi Baiq: "Jika gombal hanya sekadar kata-kata, mengapa kita marah saat dihina?" Karena pada akhirnya, kata-kata punya kuasa untuk menyembuhkan, atau setidaknya, membuat kita merasa lebih hidup.

Comments