FUTURE HUSBAND : HOW TO KEEP HIM INTERESTED?
Seorang teman pernah membagikan sebuah artikel kepadaku. Judulnya panjang, tentang seorang ayah yang menulis surat untuk putrinya, tentang calon suami sang putri kelak. Sebuah surat yang, entah mengapa, membuatku terdiam cukup lama setelah membacanya. Tulisan itu terasa begitu bermakna. Begitu jujur. Begitu penuh kasih. Aku membacanya perlahan, dan di beberapa bagian, aku merasa seperti sedang mendengar suara Ayah. Jika Ayahku masih hidup, mungkin inilah hal-hal yang ingin beliau sampaikan kepadaku. Dengan caranya yang tenang. Dengan kasih yang tidak berisik. Surat itu berbicara tentang satu hal penting: bahwa tidak pernah, dan tidak akan pernah, menjadi tugas seorang perempuan untuk “menjaga agar pasangannya tetap tertarik”. Seorang perempuan tidak diciptakan untuk menyesuaikan diri demi disukai. Tidak perlu menjadi versi lain dari dirinya. Tidak perlu belajar cara menjadi “cukup” menurut standar orang lain. Yang perlu diyakini hanyalah satu hal: bahwa dirinya layak untuk dicintai, ap...