Senja di Pojok Cafe
Suatu siang di sebuah kafe, aku bertemu seorang kawan lama. Hampir dua tahun kami tak bertemu, dan komunikasi kami pun tak lagi serutin dulu. Seperti pertemuan kawan lama pada umumnya, kami menghabiskan waktu dengan menelusuri masa lalu. Cerita-cerita lama mengalir begitu saja, diselingi tawa kecil yang muncul dari kenangan yang dulu pernah begitu berarti. Siang perlahan bergeser menjadi sore. Percakapan kami pun ikut bergerak, dari masa lalu ke masa kini. Ia bercerita tentang rencananya untuk menikah dalam waktu dekat. Aku mendengarkan dengan senyum tulus, lalu bergantian bercerita tentang betapa seringnya aku bertemu orang-orang yang menanyakan hal yang sama berulang kali, “kapan punya momongan?” Setelah itu, kami terdiam. Aku memperhatikan jemarinya yang memutar-mutar gelang di pergelangan tangannya. Gelang yang dulu juga pernah kupakai. Gelang persahabatan, begitu kami menyebutnya. Dulu, aku, Kay, dan Gina memilikinya. Sama persis, hanya berbeda inisial nama. Aku tak tah...