[Review] La La Land | Realita, Cinta, Mimpi dan Akhir yang Bahagia
Akhir pekan lalu, di sela libur kerja, aku akhirnya menonton film yang sudah lama berseliweran di mana-mana. Film yang katanya bagus, menyabet banyak penghargaan, dan punya rating tinggi: La La Land . Jujur saja, awalnya aku agak ogah-ogahan. Drama musikal bukan favoritku. Rasanya selalu sedikit absurd, tokohnya bisa tiba-tiba bernyanyi dan menari di tengah percakapan. Belum lagi stigma cerita klise: entah happy ending ala dongeng, atau sad ending ala Romeo dan Juliet. Ditambah ribuan ulasan netizen yang bilang film ini bakal ninggalin rasa tidak enak setelah ditonton. Aku jadi maju mundur. Mau nonton, tapi harus kumpulin mood dulu. Akhirnya, aku menontonnya juga. Film ini bercerita tentang dua orang pemimpi: Mia dan Sebastian. Mia bekerja paruh waktu di kedai kopi sambil terus datang ke audisi, berharap suatu hari bisa menjadi aktris. Sebastian adalah pianis pencinta jazz klasik yang idealis, bermimpi punya klub jazz sendiri agar musik yang ia cintai tidak punah. Namun, idealisme...